Yayasan Sahara Merasa Tertipu, Warga Batu Gajah ; Oknum Mandala Foundation Terindikasi Sebagai Mafia Lahan Sejati
Riau - Penggagas penghijauan dalam lahan konservasi di atas izin PT Perawang Sukses Perkasa Industri (PSPI) di Desa Batu, Gajah, Kecamatan Tapung, Kampar, Riau, merasa dijebak oleh pembeli lahan Konservasi dari Suhaili Datuk Mudo beberapa bulan lalu.
Pembeli lahan yang dicap oleh warga Batu Gajah ini sebagai “mafia lahan” bernama Ma'ruf Sugiyanto. Awalnya kalau diamati tim “Jurnalis Metro Group” dia (Ma’aruf Sugiyanto) bermaksud baik ingin menghijaukan lahan Cakruk Batu Gajah itu.
Belakangan setelah ternyata aksi penghijauan setelah mengamankan lahan, tanpa sepengetahuan Yayasan Sahara lahan yang ditumbuhi sawit itu kabarnya diperjual belikan dengan alasan yang masuk akal “uang untuk penghijauan?”.
“Kita sudah kumpulkan bukti, berbentuk kwitansi bunyinya sih bantuan penghijauan, tapi kalau kami telusuri kebenarannya uang itu tak sepenuhnya dimanfaatkan untuk biaya penghijauan. Kwitansi ini banyak ditandatangani oleh Ma'ruf Sugiyanto,” kata Direktur Yayasan Sahabat Alam Raya (Sahara), Senin (1/2/26).
Sebelumnya kegiatan Yayasan Sahara yang dibantu oleh Mandala Foundation dalam lahan konservasi di atas izin PT Perawang Sukses Perkasa Industri (PSPI) di Desa Batu, Gajah, Kecamatan Tapung, Kampar, Riau. (Bukti semua surat ke Pemerintahan atas nama Yayasan Sahara).
Momen penting penghijauan itu menurut yayasan Sahara mengingatkan manusia akan tanggung jawab bersama dalam menjaga alam dengan kekayaan alamnya yang luar biasa di Batu Gajah termasuk hewan endemik nya.
“Ini tentunya membutuhkan perhatian dan aksi nyata dari semua warga agar hutan ini terus lestari,” kata Batara.
Namun belakangan aksi mulia ini dikabarkan ternoda oleh oknum Mandala Foundation sendiri, dimana ada dugaan oknum ini memperkaya diri atau setidaknya diduga untuk foya - foya?.
“Banyak yang menyebut aksi penyelamatan hutan di Batu Gajah dilakukan oleh mafia lahan yang sebenarnya?,” kata warga Batu Gajah.
Sebelumnya para anggota yang tergabung dalam Yayasan Sahara mendapat mandat dari seorang tokoh adat dengan Kop Surat Koperasi Petani Putra Lingga Bayur Batu Gajah (Kopni - PLBBG).
Kini para anggota ini dibicarakan bakal terpisah dan jalan sendiri - sendiri sebab ulah “manusia yang serakah”.
“Ini kami cap dengan label ‘mafia lahan yang sejati’,” kata warga ini.
Suhali Datuk Mudo sendiri sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam hal ini belum memberikan keterangan terkait keterlibatannya menerima uang dengan Ma'ruf Sugiyanto dari oknum warga Batu Gajah bernama Boimin.
Sebelumnya Boimin sendiri sudah diperiksa di Polda Riau, karena menanam sawit dalam lahan konservasi PT PSPi namun kasih ini sampai Senin (1/2/26) belum terdengar sampai ke Pengadilan.
Konfirmasi kepada yang di cap warga Batu Gajah "mafia lahan" Ma'ruf Sugiyanto dan pihak terkait melalui group Mandala Foundation tak satupun berani menjawab.**






Komentar Via Facebook :