Doktor dari Northern Illnois University Sambangi SMA Pradita Dirgantara

Doktor dari Northern Illnois University Sambangi SMA Pradita Dirgantara

Boyolali — Berpikir kritis (Critical Thinking) merupakan salah satu dari lima kemampuan yang harus dimiliki para siswa pada abad 21.

Selain itu ada empat hal lainnya yang tidak kalah penting bagi siswa untuk dapat berkompetisi di masa yang akan datang, yaitu, Problem Solving (menyelesaikan masalah), Creativity (kreativitas), Communication Skills (kemampuan berkomunikasi), dan Ability to Work Collaboratively (kemampuan untuk bekerja sama).

Untuk menjawab tantangan dimasa yang akan datang, SMA Pradita Dirgantara menyelenggarakan webinar yang berjudul “What Critical Thinking Teally Is, and Why It In Important” dengan menghadirkan pembicara dari Northern Illnois University, Dr. James Cohen. 

Selain itu, webinar ini juga merupakan upaya agar siswa-siswi SMA Pradita Dirgantara menjadi seorang critical thinker, sehingga kelak mereka menjadi pemimpin dunia yang berpikiran terbuka dan mampu memahami permasalahan yang ada dalam masyarakat dan membuat solusi atas permasalahan itu.

Meski, Webinar tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada Rabu (23/12/2020), namun tidak mengurangi antusiasme para guru, staff serta siswa kelas X, XI, dan XII.

Dr. James Cohen dalam paparannya, menyampaikan tentang 6 prinsip pokok dari critical thinking. Pertama, adalah "dispositions; bagaimana cara terbuka dengan pemikiran orang lain. Hal tersebut berkaitan dengan siapa yang terbuka untuk mendengarkan perspektif orang lain, siapa yang mencari tahu prespektif orang lain, dan siapa yang mengubah posisinya jika diberikan bukti yang valid". 

Kedua, criteria;"untuk berpikir kritis, kita harus menerapkan suatu kriteria. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu nilai dapat dipercaya adalah: harus relevan, fakta yang akurat, berdasarkan sumber yang kredibel, tepat, tidak terhapus, logika yang konsisten, dan punya alasan yang kuat". 

Ketiga, argument;"yaitu tentang apakah kita punya keyakinan yang dapat dipercaya, berpikir kritis melibatkan identifikasi, evaluasi dan mengkonstruksi argumen-argumen". 

Keempat, reasoning;"kemampuan untuk menyimpulkan kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Untuk melakukannya membutuhkan pemeriksaan hubungan logis antara pernyataan atau data. Contohnya, adalah ada genangan air di lantai kelas, ada beberapa kemungkinan yang muncul, misalnya petugas kebersihan baru saja mengepel lantai atau seseorang menumpahkan segelas air atau baru saja hujan dan ada kebocoran di langit-langit". 

Kelima, point of view;"cara seseorang memandang dunia membentuk konstruksi makna seseorang. Dalam pencarian pemahaman, para pemikir kritis memandang fenomena dari berbagai sudut pandang. Dalam berpikir kritis kita perlu mempelajari orang lain dan perspektif lain". 

Terakhir, procedures for applying criteria;"ada beberapa prosedur dalam menerapkan kriteria, diantaranya adalah mengidentifikasi isu, menganalisis, merefleksi, mengevaluasi, dan memberikan alasan.” papar Dr. James.

lagi kata Dr. James, mengapa berpikir kritis sangat penting. “Berpikir kritis menjadi penting karena kita selalu dimanipulasi menit demi menit dengan hal-hal yang dasar, baik dari guru-guru kita, politisi, saudara-saudara kita, atau bahkan dengan smartphone kita. Beberapa filosofi selalu membandingkan orang-orang yang tidak berpikir kritis sama saja dengan mereka tidur. Anda adalah autopilot bagi diri sendiri, apakah Anda akan membiarkan asumsi dan stereotipe mengontrol pikiran Anda atau tidak.” Lanjut Dr. James.

Pada sesi tanya jawab, para siswa sangat antusias untuk memberikan pertanyaan kepada Dr. James, salah satunya adalah Haikal Rizki dari kelas X. kata Haikal,"bagaimana cara untuk berpikir kritis ditengah masyarakat yang majemuk, di Indonesia orang yang passion pada seni dan budaya berbeda tipe individu dengan orang yang passion dengan akademik seperti dokter. Apakah hal tersebut mempengaruhi critical thinking?” tanya Haikal. “Apakah pengalaman pribadi bisa digeneralisasi? Beberapa bisa tetapi kebanyakan tidak bisa. Oleh karena itu untuk menjadi critical thinker tidak bisa menggunakan pengalaman pribadi yg kemudian digeneralisasikan.” Jawab Dr. James.

Pertanyaan selanjutnya,“Mengidentifikasi demokrasi yang merupakan suatu cara pemilihan pemimpin dalam pemerintahan. Terdapat 2 sudut pandang untuk mendukung demokrasi, contohnya dalam voting untuk pemilihan presiden di Amerika “Trump” masyarakat memilih Trump karena mereka percaya dia bisa, walaupun dia tidak mempunyai background politik sama sekali. 

Dan yang kedua tidak mendukung demokrasi. Mengapa kita harus menggunakan sistem demokrasi, sedangkan kita tidak ingin memilih seorang pemimpin yang menurut kita tidak capable untuk menjadi seorang pemimpin. Apakah hal tersebut merupakan suatu bentuk critical thinking?” tanya seorang siswa.

Dr. James mengapresiasi pertanyaan tersebut. “Wow, saya sangat mengapresiasi caramu berproses untuk menjadi critical thinking. Dan itulah cara untuk menjadi seorang critical thinker, yaitu melihat segala persoalan dari beberapa sudut pandang.” Jawab Dr. James menutup.**


 

Batara Harahap
Komentar Via Facebook :