Counter Issu Beli Pulau Puti Island, Kabid PUPR Libatkan Media Bohongi Publik

Pekanbaru - Dari pernyataan Kabid Binamarga PUPR Pekanbaru, Akmaluddin, saat wawancara sebelumnya dengan redaksi media melalui perangkat seluler, Kamis (1/10/20) tepatnya pukul 17.14 Wib lalu, Akmaluddin, mengaku telah membeli sebuah pulau di Kecamatan XII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Riau.

Dalam pemberitaan sebuah media online baru-baru ini yang bersangkutan malah berbalik membantah ucapannya itu. Diungkapkan dalam berita tersebut, Akmaluddin mengaku tidak pernah diwawancarai.

Penyataannya yang berbeda Akmaluddin itu juga diperkuat oleh  yang menyatakan tidak ada jual beli pulau di desanya, namun akunya nama Akmaluddin ada dipulau tersebut.

"Kami dari pemerintahan desa Pulau Gadang tidak bisa mengeluarkan surat jual beli atau SKGR, karena pulau-pulau itu sudah diganti rugi oleh pemerintah,"  demikian ungkap Kepala Desa Pulau Godang, Kampar, Riau, Syofian Majo Sati, SH.MH Kades, pada media online yang yang sebelumnya diduga ditugaskan Akmal membantah pernyataannya telah membeli pulau itu memakai nama Kades.

Terkait uang dugaan kejahatan, yang diivestasikan di daerah tersebut, Kades mengaku tidak mau tahu, namun masalah ada oknum terkait tindak pidana dia mempersilahkan LSM maupun martawan mengungkapnya.

Sementara salah seorang sumber yang namanya tidak disebutkan media ini mengaku ada ketakutan dari Akmalludin sejak pemberitaannya membeli pulau itu dipublish dan disampaikan ke PPATK akan mengkait terhadap jabatannya sebagai Kabid. Bina Marga PUPR Kota Pekanbaru.

"Jangankan menenangkan seorang oknum wartawan, aparat oknum Kejaksaan saja bisa dibuat dingin oleh Kabid yang katanya keponakan Walikota Pekanbaru, Firdaus, ST, MT ini," ujar sumber itu. 

Sementara, sebelumnya ada sebuah rekaman yang patut dipertanyakan soal pengakuan Kabid Akmaluddin telah membeli pulau tersebut.

Ketua Lembaga LIPPSI, Mattheus S, sebenarnya menyayangkan pernyataan Akmaluddin menyampaikan bahwa berita itu tidak benar dan berita itu terbit tanpa ada konfirmasi sama dirinya. 

"Kalau masalah investigasi kita pasti akan sampai ke Kades, apakah benar dia tidak menerbitkan surat atau semacam legalitas lainnya, itu nanti kita dalami," kata Mattehus, Senin (5/10/20).

 

Masalah Akamal menyatakan kemedia dia kalau dirinya di "Puti Island" hanya investasi dan bekerjasama dengan masyarakat setempat guna untuk menciptakan lapangan pekerjaan, itu sah-sah saja. Yang menjadi pertanyaan sumber dana tersebut dari mana asalnya, apakah gajinya sebanyak itu?.

Penyataannya itu, menurut Mattheus merupakan pembohongan publik. Tragisnya Akmaluddin merilis pada dimedia berbeda.

Guna membuktikan pernyataan Akmaluddin ini, redaksi ini bisa membuktikan kebenaran omongan Akmaluddin dengan sedikit rekaman singkat yang berhasil disimpan redaksi.
 
"Akmal tidak sadar kalau dia telah saya buktikan dengan rekaman dari hasil wancara wartawan, saya disampingnya kok, konfirmasi yang dispekerkan kawan wartawan itu. Saya rekam jelas Akmaluddin katakan beli pulau," katanya. 

Counter issu pada media lain itu kata Mattheus, mengungkapkan ada ketakutan Akmaluddi jika masalah pembelian pulau itu akan dihubungkan dengan aktifitasnya sebagai pejabat.

Apalagi baru baru ini dirinya baru saja dilaporkan terkait dugaan tindak pidana korupsi pada beberapa paket proyek pembangunan di Pekanbaru.

"Hebatnya dia (Akmaluddin) mampu menenagkan aparat hukum pasca laporan LIPPSI itu. Tentunya untuk menenagkan wartawan dan lain-lain, kita kira itu masalah geleng bagi Akmal. Bayangkan dari 3 laporan itu saja nilainya kerugian negara 1,1 milyar, dan semua masih bisa tenang," sambung Mattheus.

Kembali menyoal penyataan Akmal disalah satu media yang meng-counter berita tentang pembelian pulau itu, itu hak Akmal. Masalahnya mampu tidak media tersebut mengungkap kebenaran dari pernyataan narasumber itu.

"Jangan karena ada 'sesuatu?', media itu meplintir kebenaran yang sesunguhnya, masalahnya ada rekaman wawancara yang langsung saya rekam dari wancara wartawan, di situ Akamal mengakui beli pulau," katanya.

"Atau karena hanya sekedar mengharapkan sesuatu dari Akmaludiin sehingga mediapun malah ikut dibuat melakukan pembohongan publik," pungkasnya.

Usai ucapakan benar beli pulau Akmaluddin, segan menjawab ditelphon dia minta besoknya jumpa. Kemudian Senin (5/10/20) Dikonfirmasi lagi Akamluddin tak berani lagi membantah.**


 

Redaksi
Komentar Via Facebook :