KKLT Dorong Beasiswa Lutim Berbasis Kebutuhan SDM, Bukan Sekadar Bantuan Kuliah

KKLT Dorong Beasiswa Lutim Berbasis Kebutuhan SDM, Bukan Sekadar Bantuan Kuliah

MAKASSAR — Kerukunan Keluarga Luwu Timur (KKLT) mendorong agar program beasiswa bagi putra-putri daerah tidak lagi dipandang semata sebagai bantuan biaya pendidikan. Program tersebut dinilai perlu dirancang sebagai strategi pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan dan dunia kerja di Luwu Timur.

Gagasan itu mengemuka dalam dialog Milad ke-20 KKLT di Makassar, Sabtu (15/8/2026). Forum tersebut mempertemukan akademisi, masyarakat Luwu Timur, dan kalangan profesional untuk membahas kebutuhan daerah, termasuk bagaimana menyiapkan SDM lokal agar mampu mengambil peran lebih besar dalam pembangunan.

Akademisi asal Matano, Luwu Timur, Prof. Dr. Jasruddin, M.Si., mengatakan desain beasiswa harus dimulai dari pemetaan kebutuhan riil daerah. Pemerintah tidak cukup hanya menentukan penerima dan membiayai pendidikan, tetapi perlu memiliki gambaran mengenai kompetensi yang dibutuhkan Luwu Timur dalam jangka panjang.

“Harus dibuat desain beasiswa sesuai kebutuhan lokal di Luwu Timur,” kata Jasruddin.

Menurut Ketua Dewan Pakar KKLT itu, kebutuhan tenaga kerja pada sektor strategis di Luwu Timur dapat menjadi salah satu dasar penyusunan program beasiswa. Dengan pola tersebut, penerima beasiswa sejak awal diarahkan untuk menempuh pendidikan sesuai kompetensi yang dibutuhkan daerah.

Ia mencontohkan kebutuhan SDM pada industri pertambangan, termasuk PT Vale. Jika anak-anak Luwu Timur diharapkan mampu mengisi posisi menengah hingga strategis di perusahaan tersebut, proses penyiapan mereka harus dilakukan secara terencana.

“Agar anak-anak kita bisa masuk ke PT Vale sebagai SDM pada level menengah ke atas, maka memang harus diskenariokan anak-anak kita bisa diseleksi sedemikian rupa untuk bisa diberikan beasiswa agar mencapai level SDM yang dibutuhkan perusahaan,” ujarnya.

Beasiswa Harus Disertai Pendampingan

Jasruddin menilai persoalan beasiswa bukan sekadar memastikan mahasiswa mampu membayar biaya kuliah. Program tersebut juga harus menjamin penerima dapat menyelesaikan pendidikan dan mencapai kompetensi yang ditargetkan.

Karena itu, komponen pembiayaan menurutnya perlu memperhitungkan kebutuhan hidup atau living cost. Penerima juga perlu memperoleh pendampingan selama menjalani pendidikan agar dukungan yang diberikan tidak berhenti pada pembayaran biaya akademik.

Dengan pendekatan tersebut, beasiswa dapat menjadi investasi jangka panjang daerah dalam membangun kualitas SDM.

“Beasiswa juga seharusnya bisa diperoleh oleh anak-anak asal Luwu Timur meskipun tidak lagi ber-KTP Lutim. Karena tentu kita punya kepedulian yang sama untuk kampung halaman meski tidak tinggal di sana,” katanya.

Menurut Jasruddin, keterikatan seseorang dengan Luwu Timur tidak semata-mata ditentukan oleh status administrasi kependudukan. Putra-putri asal daerah yang sedang menempuh pendidikan atau bekerja di luar Luwu Timur tetap memiliki potensi untuk kembali dan berkontribusi bagi daerah.

Talenta Dipetakan Sejak SMA

Gagasan tersebut mendapat dukungan Bendahara Umum KKLT, Hasnaeni Asri, yang memiliki latar belakang profesional di bidang pengembangan SDM.

Hasnaeni mengatakan Luwu Timur perlu mulai membangun sistem human capital yang lebih terarah agar anak-anak daerah dapat dipersiapkan untuk mengisi berbagai peluang kerja yang tersedia.

“Sudah saatnya anak-anak kita dari Luwu Timur diarahkan untuk menyiapkan diri mengisi posisi-posisi strategis lapangan kerja yang sangat banyak di Lutim,” ujarnya.

Menurut dia, proses tersebut bahkan dapat dimulai sejak tingkat SMA. Calon penerima beasiswa dapat dipetakan berdasarkan potensi, minat, kemampuan, serta kebutuhan kompetensi yang telah ditentukan.

“Artinya memang harus disiapkan sejak awal, misalnya mulai dari kelas 2 SMA sudah bisa di-cluster sebagai calon penerima beasiswa. Seterusnya didampingi dan di-support hingga mencapai level yang memenuhi syarat di posisi yang jadi target,” jelasnya.

Pola tersebut akan mengubah karakter program beasiswa dari pasif menjadi lebih proaktif. Pemerintah maupun pengelola program tidak hanya menunggu pengajuan, tetapi aktif mencari talenta, memetakan kebutuhan kompetensi, menentukan jalur pendidikan, memberikan dukungan, dan mendampingi penerima hingga siap memasuki dunia kerja.

Hasnaeni juga mendukung perluasan akses beasiswa bagi putra-putri asal Luwu Timur yang berada di luar daerah. Menurutnya, mereka tetap merupakan bagian dari potensi SDM yang dapat berkontribusi bagi pembangunan daerah.

Dari Bantuan Pendidikan Menjadi Investasi Daerah

Dalam dialog Milad ke-20 KKLT yang dimoderatori Wakil Ketua Bidang Kebijakan dan Program Strategis KKLT, Asri Tadda, pengembangan SDM menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian.

Gagasan yang mengemuka menempatkan beasiswa dalam kerangka pembangunan SDM yang lebih panjang. Tahapannya tidak berhenti pada pemberian bantuan pendidikan, tetapi dimulai dari pemetaan kebutuhan tenaga kerja, identifikasi talenta, pembiayaan pendidikan, pendampingan, hingga penyiapan lulusan agar memiliki kompetensi yang relevan.

Dengan desain tersebut, beasiswa Luwu Timur diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan berpendidikan tinggi, tetapi juga membentuk SDM lokal yang benar-benar siap mengisi kebutuhan strategis daerah dan memiliki ruang untuk kembali memberikan kontribusi bagi kampung halaman. (*)


Komentar Via Facebook :