Proyek Rp6,8 Miliar Tersendat, Vendor Ambulans CSR Vale Dipertanyakan

Proyek Rp6,8 Miliar Tersendat, Vendor Ambulans CSR Vale Dipertanyakan

Potret Ambulans PT Vale

LUWU TIMUR — Keterlambatan pengadaan mobil ambulans untuk desa-desa di wilayah pemberdayaan PT Vale Indonesia Tbk. kini mengarah pada sorotan terhadap kinerja pihak penyedia atau vendor yang menangani proyek tersebut.

Meski dana pengadaan disebut telah dicairkan sejak Januari 2026, hingga awal Mei unit ambulans yang dijanjikan belum juga diterima oleh pemerintah desa. Kondisi ini memicu pertanyaan terkait pelaksanaan kontrak oleh pihak ketiga.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek pengadaan senilai sekitar Rp6,8 miliar tersebut dikerjakan oleh PT Malili Suplai Utama. Perusahaan ini disebut bertanggung jawab atas penyediaan 24 unit ambulans untuk desa di Kecamatan Malili, Wasuponda, Towuti, dan Nuha.

Sejumlah kepala desa mengaku mulai mempertanyakan progres pekerjaan, mengingat batas waktu pengadaan yang disebut jatuh pada April 2026 telah terlewati.

“Dana sudah ditransfer, tapi sampai sekarang unitnya belum ada,” ujar salah satu kepala desa yang enggan disebutkan namanya.

Situasi semakin kompleks setelah pihak yang disebut terkait dengan vendor, Erwin R Sandi, dilaporkan sulit dihubungi. Nomor telepon maupun aplikasi pesan instan yang bersangkutan tidak aktif, bahkan oleh rekan dekatnya.

“Sudah lama tidak bisa dihubungi. Kami juga tidak tahu perkembangan terakhirnya,” ujar salah seorang sumber.

Keterlambatan ini juga berdampak pada agenda yang sebelumnya direncanakan, termasuk penyerahan simbolis ambulans yang sempat dijadwalkan dalam momentum Safari Ramadan maupun peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Luwu Timur.

Di sisi lain, belum ada penjelasan resmi dari pihak vendor terkait alasan keterlambatan pengadaan, termasuk status keberadaan unit ambulans yang disebut sebagian masih berada di luar daerah.

Sejumlah pihak menilai, transparansi dan komunikasi dari vendor menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan, terutama karena proyek ini bersumber dari dana CSR yang diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat desa.

Program ini sendiri awalnya dirancang untuk memperkuat layanan kesehatan desa, namun pelaksanaannya kini menghadapi kendala yang berpotensi menghambat manfaat yang diharapkan.

Pihak PT Vale Indonesia Tbk. melalui fungsi eksternal dikabarkan akan melakukan penelusuran lebih lanjut guna memastikan proses pengadaan berjalan sesuai ketentuan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak PT Malili Suplai Utama terkait perkembangan proyek tersebut.

Kondisi ini menempatkan peran vendor sebagai titik krusial dalam keberhasilan program, sekaligus menjadi ujian terhadap akuntabilitas pelaksanaan proyek yang didanai untuk kepentingan publik. (*)


Redaksi

Komentar Via Facebook :