Tom Al-Kadry: Saat Rakyat Laoli Ditekan, Mengapa Mahasiswa Luwu Timur Bungkam?

Tom Al-Kadry: Saat Rakyat Laoli Ditekan, Mengapa Mahasiswa Luwu Timur Bungkam?

Mantan aktivis mahasiswa asal Luwu Raya, Wahyu ‘Tom’ Al-Kadry,

LUWU TIMUR — Mantan aktivis mahasiswa asal Luwu Raya, Wahyu 'Tom' Al-Kadry, mempertanyakan sikap bungkam sejumlah organisasi mahasiswa asal Luwu Timur di tengah tekanan yang dialami warga petani Laoli dalam konflik agraria yang kini menjadi sorotan publik.

Dalam pernyataan yang diterima redaksi pada Jumat (1/5/2026), Tom Al-Kadry menyampaikan keprihatinan mendalam atas tindakan represif terhadap warga serta minimnya keberpihakan lembaga mahasiswa daerah terhadap masyarakat yang sedang menghadapi persoalan serius di kampung halamannya sendiri.

“Saat rakyat Laoli ditekan, mengapa mahasiswa Luwu Timur justru bungkam?” tegas Tom.

Mantan Sekretaris Umum HMI Cabang Makassar periode 2002–2003 itu menilai, organisasi mahasiswa seperti IPMALUTIM, HAM Lutim Palopo, dan IPPMK Lutim Palu semestinya tampil di garis depan sebagai kekuatan moral yang membela rakyat, bukan justru terkesan diam dan apatis.

“Sangat memprihatinkan. Warga sedang menghadapi tekanan, tetapi lembaga mahasiswa yang membawa nama Luwu Timur justru tidak menunjukkan sikap yang tegas. Ini ironi bagi gerakan mahasiswa,” ujarnya.

Di sisi lain, Tom menyampaikan apresiasi kepada LBH Makassar, PBHI Sulsel, dan LKBHMI HMI Cabang Makassar yang dinilainya hadir nyata memberikan pendampingan hukum dan moral kepada warga.

“Saya bangga karena justru lembaga-lembaga di luar organisasi kedaerahan tampil serius membela masyarakat Laoli. Mereka hadir ketika rakyat membutuhkan dukungan,” katanya.

Tom juga menyinggung kemungkinan adanya ketakutan politik yang memengaruhi sikap organisasi mahasiswa lokal, terutama jika berkaitan dengan relasi terhadap pemerintah daerah.

“Jangan sampai mereka takut bersikap kritis karena khawatir hibah APBD terganggu. Jika benar demikian, maka independensi gerakan mahasiswa sedang berada dalam krisis,” sindirnya.

Sebagai mantan Koordinator Wilayah XI Sulawesi ISMAHI dan Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum UMI, Tom menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab historis sebagai agen perubahan, kontrol sosial, dan pembela kelompok tertindas.

“Mereka mestinya malu. Persoalan besar di daerah sendiri justru lebih dahulu direspons oleh pihak luar. Ini tamparan keras bagi idealisme mahasiswa Luwu Timur,” tandasnya.

Bagi Tom, konflik Laoli bukan hanya persoalan sengketa lahan, tetapi juga ujian moral bagi mahasiswa daerah dalam menentukan keberpihakan mereka terhadap rakyat.

“Ketika masyarakat ditekan, diam bukan netralitas. Diam adalah pengingkaran terhadap tanggung jawab perjuangan,” pungkasnya. (*)


Redaksi

Komentar Via Facebook :