8 Hari Warga Siabu Demo PT Ciliandra, Jalan Truk CPO Perusahaan Diblokir

8 Hari Warga Siabu Demo PT Ciliandra, Jalan Truk CPO Perusahaan Diblokir

Kampar - Sudah memasuki delapan hari warga Desa Siabu Kecamatan Salo, Kabupaten Kampar, Riau memblokade jalan pabrik kelapa sawit (PKS) sekaligus kebun sawit PT Ciliandra Perkasa grup Surya Dumai Grup/First Resources. Aksi digelar sejak Senin lalu (8/9/2025).

Mereka menghadang truk CPO dari PT Ciliandra Perkasa sehingga tak bisa lewat di pintu gerbang yang dijaga ratusan warga itu. Alasannya, kendaraan Over Load Over Dimension (ODOL) terhadap kapasitas jalan kabupaten yang diblokade. 

Puluhan truk tangki CPO pengangkut minyak mentah sawit atau Crude Palm Oil (CPO) tidak bisa lewat dan harus menepi di pinggir jalan. Kepala Desa Siabu, Tarmo menyebutkan, warga yang mengikuti aksi masih bertahan dan belum bersedia membubarkan diri. 

Masyarakat menuntut kompensasi Rp500 juta per bulan sampai pembangunan kebun KKPA rampung. Ia menyatakan, pihaknya sedang berupaya mengkomunikasikan tuntutan warga ke perusahaan.

"Terhadap tuntutan masyarakat, sampai sekarang belum ada respon dari perusahaan. Kita masih upayakan komunikasi dengan perusahaan," ungkapnya. 

Ia menjelaskan awal aksi blokade itu dilakukan, warga yang bernaung di Koperasi Siabu Maju Bersama (KSMB) menolak kebun KKPA karena tidak layak. 

Konflik Siabu dengan PT Ciliandra Perkasa diketahui telah berlangsung sejak tahun 1990-an. Warga menuntut lahan di luar Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan. 

Pemkab Kampar di masa kepemimpinan Bupati almarhum Azis Zaenal pernah menyelesaikan konflik pada 2017. Penyelesaian konflik berisi perjanjian di antaranya, perusahaan akan menyediakan kebun KKPA sekitar 600 ha dan memberi kompensasi Rp500 juta sampai kebun KKPA selesai dibangun.

Bahkan, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kampar waktu itu Devitra Romiza SH MH berhasil menengahi konflik antara warga dengan pihak PT Ciliandra dan saat bertemu di Kejati Sumbar kata Devitra pihaknya menyelesaikan konflik dimana warga dapat kompensasi Rp500 juta per bulan dulunya.

Soal aksi ini, pihak manajemen PT Ciliandra Perkasa belum dapat dimintai keterangan dan tanggapannya terhadap aksi warga. (tim) 


Redaksi

Komentar Via Facebook :