Kelurga Gubri Dituduh Monopoli Proyek APBD

Kelurga Gubri Dituduh Monopoli Proyek APBD

Line Pekanbaru - Keluarga Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman, kembali dituduh melakukan praktek monopoli proyek di APBD Riau. Kali ini, giliran Forum Pelajar, Mahasiswa dan Pemuda Riau Anti Korupsi (FPMPR) yang meneriakkannya.

FPMPR turun berunjuk rasa dengan seratusan massa di depan kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Pekanbar, Kamis (27/4) siang. Mereka menyebut ada empat orang yang menjadi penentu pelaksanaan proyek di APBD Riau.

Koordinator aksi, Bruri MP Nainggolan, mengatakan dua dari empat orang itu adalah Anto Rachman dan Juni Rachman, adik kandung Arsyadjuliandi Rachman. Sedangkan dua lainnya adalah Willy Lesmana dan Raja Benni.

Kedua adik Gubri itu, kata Bruri, memungut dari perusahaan pemenang tender hingga 13 persen dari nilai proyek. Disebutkan ada 30 proyek yang dipungli keduanya dengan nilai proyek hingga puluhan miliar.

Proyek-proyek itu umumnya pekerjaan pemeliharaan jalan, antara lain; Daludalu-Mahato (Rp3,9 miliar), Mahato-Simpang Manggala (Rp4,9 miliar), Sontang-Kota Lama Simpang Suram (Rp4,9 miliar), Bagansiapiapi-Sinaboi (Rp4,9 miliar), Bangkinang-Petapahan (Rp4,9 miliar), Simpang Bunut-Teluk Meranti (Rp7,4 miliar).

Lalu proyek pembangunan jalan Tanjung Padang-Teluk Belitung (Rp5,9 miliar), peningkatan Jalan Air Molek-Simpang Japura (Rp15,8 miliar), dan peningkatan jalan Cerenti Air-Molek (Rp9,9 miliar).

Ada juga proyek pembangunan jembatan seperti Jembatan Reteh (Rp31 miliar), pemeliharan Jembatan Perawang (Rp1,4 miliar), dan pemeliharaan Jembatan Teluk Masjid (Rp1,3 miliar). "Kita minta Kejaksaan Tinggi Riau mengusut korupsi dengan memonopoli proyek itu," teriak Bruri.

Aspirasi massa ini diterima Asisten Intelijen Kejati Riau, SP Simaremare, didampingi Kasi Penkum dan Humas Kejati Riau, Muspidauan. "Kita akan menindaklanjuti aspirasi adik-adik," kata Simaremare.

Dikeroyok

Sepanjang unjuk rasa, darah mengucur dari bibir Bruri. Rupanya sebelum berunjuk rasa ada sejumlah pemuda mengeroyok dirinya.

Pengeroyokan itu terjadi ketika massa berkumpul di samping Perpustakaan Wilayah sebelum bergerak ke Kejati Riau. Bruri menyebut pengeroyoknya adalah anggota Pemuda Pancasila (PP).

"Saya mantan Sekretaris Satma (Satuan Mahasiswa) PP. Saya tahu betul mana anggota PP dan mana yang bukan. Dan, yang memukul saya tadi anggota PP," katanya.

Bruri akan melaporkan pengeroyokan itu ke Polresta Pekanbaru. "Pasti saya lapor ke polresta. Saya mau polisi menangkap orang yang memukul saya," tegasnya. **


 

Komentar Via Facebook :