3 Gangguan Kehamilan yang Bisa Berakibat Fatal

3 Gangguan Kehamilan yang Bisa Berakibat Fatal

Kehamilan menjadi masa yang penuh perjuangan bagi seorang ibu. Beberapa masalah kehamilan mungkin tak perlu dikhawatirkan karena merupakan reaksi alami. Namun, beberapa masalah lainnya tak boleh diabaikan karena dapat menimbulkan komplikasi.

Gangguan dapat timbul pada Kehamilan karena berbagai alasan. Kondisi ini dapat datang karena kondisi kesehatan ibu atau perubahan hormon dan tubuh yang terjadi selama kehamilan. Jika tak segera mendapat penanganan, gangguan ini dapat membahayakan ibu dan bayi.

Dikutip dari Liputan6, Komplikasi selama kehamilan dapat terjadi di tiap trimester Kehamilan. Menjaga kesehatan dan mewaspadai gangguan ini sejak dini membuat ibu akan berisiko lebih rendah mendapatkan gangguan kehamilan ini. Berikut gangguan kehamilan yang bisa berakibat fatal, yang telah dirangkum oleh Okeline.com dari berbagai sumber, Rabu (09/10/19).

1.Cairan ketuban terlalu sedikit (oligohidramnion)

Kantung ketuban dipenuhi cairan yang melindungi dan mendukung bayi yang sedang berkembang. Ketika cairan terlalu sedikit, kondisi ini disebut oligohidramnion.

Sekitar 8% wanita hamil dapat memiliki tingkat cairan ketuban yang rendah, dengan sekitar 4% didiagnosis menderita oligohidramnion. Biasanya kondisi ini terhadu pada trimester ketiga.

Risiko yang terkait dengan oligohidramnion sering tergantung pada kehamilan. Komplikasi oligohidramnion meliputi keguguran, pematangan paru yang terlambat atau tidak lengkap, lahir sesar, dan cacat lahir.

2.Infeksi saluran kemih

Infeksi saluran kemih kerap terjadi pada masa kehamilan. Ini karena kanin yang tumbuh dapat memberikan tekanan pada kandung kemih dan saluran kencing. Kondisi ini menjebak bakteri atau menyebabkan urin bocor. Pada usia kehamilan enam minggu, hampir semua wanita hamil mengalami dilatasi ureter. Kondisi ini terjadi ketika uretra mengembang dan terus mengembang sampai melahirkan.

Saluran kemih yang lebih besar, seiring dengan peningkatan volume kandung kemih dan penurunan tonus kandung kemih, semuanya menyebabkan urin tertahan di uretra. Ini memungkinkan bakteri untuk tumbuh.

Lebih buruk lagi, urin wanita hamil menjadi lebih terkonsentrasi dalam jenis hormon dan gula. Ini dapat mendorong pertumbuhan bakteri dan menurunkan kemampuan tubuh melawan bakteri jahat yang mencoba masuk.

Infeksi apa pun selama kehamilan bisa sangat berbahaya bagi ibu dan bayi. Ini dapat meningkatkan risiko persalinan prematur. Tanda dan gejala ISK meliputi rasa terbakar atau buang air kecil yang menyakitkan, urin keruh atau bernoda darah, nyeri panggul atau punggung bagian bawah, sering buang air kecil, dan mual atau muntah.

3.Diabetes gestasional

Diabetes gestasional adalah bentuk diabetes yang didiagnosis selama kehamilan. Ini membuat ibu lebih tinggi terkena diabetes setelah hamil. Seperti diabetes tipe 2, diabetes gestasional disebabkan oleh resistensi insulin. Pada kehamilan, tubuh secara alami menjadi sedikit resisten terhadap insulin.

Penyebab pasti diabetes gestasional tidak diketahui, tetapi hormon kemungkinan memainkan peran. Selama kehamilan, beberapa wanita mengembangkan kadar gula darah tinggi. Diabetes gestasional biasanya berkembang antara minggu ke-24 dan ke-28 kehamilan.

Jika tak segera ditangani diabetes gestasional juga dapat meningkatkan risiko bayi mengidap diabetes. Risiko kesehatan lain untuk bayi termasuk penyakit kuning, sindrom gangguan pernapasan, kadar mineral rendah dalam darah, dan hipoglikemia.


Arya S
Komentar Via Facebook :