Kuliah Umum, Panglima TNI Putar Lagu Koes Plus

Kuliah Umum, Panglima TNI Putar Lagu Koes Plus

Line Pekanbaru - Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, memutarkan cupilikan lagu Koes Plus berjudul "Nusantara I" ketika menyampaikan kuliah umum di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, Pekanbaru, Rabu (5/4).

Menurutnya, lirik lagu Koes Plus yang hits di era 1970-an itu banyak pelajaran. Lagu itu memuji kekayaan sumber daya alam Indonesia yang merupakan anugerah sekaligus ancaman dari bangsa lain.

"Lagu itu berharap tidak ada yang cemburu akan hutan kita yang luar biasa lebat, lautan luas dan alamnya ramah. Tapi negara lain sudah cemburu, dan ini adalah sebuah peringatan bagi anak muda kita agar jangan terlena," kata Nurmantyo di hadapan ribuan mahasiswa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan siswa SMA.

Katanya, Presiden Soekarno pernah menyatakan bangsa lain iri dengan kekayaan alam Indonesia. "Bahkan, Presiden Joko Widodo juga mengatakan kekayaan sumber daya kita bisa jadi petaka," ujarnya.

Karena itu, Nurmantyo meminta generasi muda memahami ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Mulai dari upaya memecah belah NKRI, hingga upaya Tiongkok mencaplok perairan Natuna.

Tak hanya itu saja, ada juga ancaman bersifat laten, seperti infiltrasi lewat film, mode, gerakan radikalisme, teknologi menggunakan media sosial, dan yang terdahsyat adalah narkoba menewaskan 15.000 warga Indonesia setiap tahun.

"Saat ini kita dalam kompetisi global. Negara miskin dengan penduduk besar akan kalah karena terjadi kesenjangan ekonomi, sehingga menimbulkan depresi ekonomi yang memicu kejahatan dan konflik meningkat," papar Nurmantyo.

Jenderal berbintang empat ini menyebutkan ada teori perang yang menganalisa perebutan energi di sebuah negara oleh negara lain. "Semua konflik saat ini melanda di negara-negara penghasil minyak. Mulai dari Suriah hingga Ukrania," katanya.

Usai perebutan minyak, perang akan memperebutkan pangan dan air. Perang ini diprediksi terjadi di negara-negara yang berada di garis khatulistiwa, seperti Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Afrika Tengah.

"Kalau kita tidak waspada, maka kita akan bernasib seperti Indian di Amerika dan Aborigin di Australia yang terusir dari negerinya sendiri," terang Nurmantyo.

Semua ancaman itu bisa dilewati jika seluruh rakyat bangsa Indonesia bersatu dan berpegang teguh pada Pancasila, serta menjaga dan merawat kebhinekaan.

"Republik Indonesia bukan milik satu golongan, adat, dan agama. Islam adalah satu nafas dengan ke-Indonesiaan dan kemanusiaan, tanpa membedakan suku," tegas Nurmantyo. **


 

Komentar Via Facebook :