Berawal dari Hobi, WD Glasskin Beauty Raup Cuan dari Ribuan Botol Parfum per Bulan

Berawal dari Hobi, WD Glasskin Beauty Raup Cuan dari Ribuan Botol Parfum per Bulan

Pekanbaru — Berawal dari kegemaran mengoleksi parfum mewah, Tri Widia Astuti (25), pemilik WD Glasskin Beauty Pekanbaru, sukses membangun bisnis wewangian beromzet tinggi. Berbekal modal awal Rp500.000, usaha yang dirintis dari skala rumah tangga ini kini berkembang pesat hingga mampu menjual 2.000 sampai 3.000 botol parfum per bulan.

​Ide bisnis ini muncul setelah Tri menikah pada 2021 lalu. Ia merasa harga parfum merek ternama (high-end) yang mencapai jutaan rupiah terlalu mahal untuk penggunaan rutin. Dari sana, ia menangkap peluang pasar untuk menghadirkan parfum berkualitas tinggi, tahan lama, tetapi dengan harga yang tetap terjangkau.

​"Awalnya hanya buat 20 botol di rumah, diracik sendiri lalu ditawarkan ke teman dan kenalan. Ternyata responsnya sangat bagus dan banyak yang repeat order. Modal Rp500.000 itu terus diputar sampai akhirnya di tahun 2026 ini sudah bisa punya toko sendiri," ujar Tri, Kamis (3/9/2026). 

​Untuk menjaga kualitas aromanya, Tri mempelajari seni meracik parfum secara profesional di Jakarta hingga mendapatkan sertifikat resmi. Bahan baku parfumnya didatangkan langsung dari Paris melalui distributor resmi di Jakarta, sehingga harganya pun menyesuaikan.

"Ketahanan wanginya mencapai 12 jam lebih dengan bahan baku yang premium dari Paris," katanya. 

​Saat ini, WD Glasskin Beauty menawarkan 14 varian parfum berukuran 30 ml dengan konsentrasi Extrait de Parfum yang diklaim mampu bertahan dari pagi hingga sore hari. Semua varian dipatok dengan harga seragam, yaitu Rp218.000. Beberapa varian yang menjadi best seller di antaranya Deline, Ombre, Moi, Sugar Baby, Kiss, Gimbal, WO, Princess, RL, Royal Babe, Honey, BO, Baccatop dan Queen. 

​Meski telah memiliki toko di Pekanbaru, penjualan terbanyak justru datang dari platform online seperti TikTok Live dan Shopee. Mayoritas konsumennya merupakan kaum perempuan dari kalangan Gen Z dan milenial. Sebagian besar pesanan datang dari luar kota, mencakup wilayah Sumatra, Jawa, Jakarta, hingga Bali. 

​"Dalam sekali proses produksi yang dilakukan setiap dua bulan sekali, bisnis yang kini mempekerjakan lima orang karyawan ini mampu mencetak 10.000 hingga 15.000 botol parfum," ungkapnya. 

​Tri mengakui bahwa menjual parfum secara online memiliki tantangan tersendiri karena calon pembeli tidak bisa mencium aromanya secara langsung. Namun, tingginya angka pemesanan ulang menjadi bukti bahwa kualitas produk yang ditawarkannya sesuai dengan harapan konsumen. Ke depannya, Tri menyimpan harapan besar untuk terus mengembangkan usahanya. 

"Cita-citanya pengin punya pabrik sendiri. Saya juga ingin membuka lapangan kerja seluas-luasnya tanpa membatasi latar belakang ijazah, yang penting calon pekerja punya tanggung jawab dan mau belajar," pungkasnya.(***) 


Redaksi

Komentar Via Facebook :