Mengenal Asri Tadda, Sosok di Balik Berbagai Gerakan Sosial dan Politik Sulsel
Asri Tadda (Foto: IST)
DI TENGAH dinamika sosial, politik, dan pembangunan kawasan Tana Luwu, nama Asri Tadda muncul sebagai salah satu figur yang memiliki lintasan perjalanan cukup unik. Ia bukan hanya dikenal sebagai aktivis organisasi, tetapi juga sebagai entrepreneur digital, pemerhati kesehatan masyarakat, pegiat literasi, tokoh paguyuban, hingga juru bicara politik yang aktif mewarnai ruang publik Sulawesi Selatan.
Perjalanan hidupnya memperlihatkan transformasi dari seorang anak kampung di Luwu Timur menjadi sosok yang berkiprah di berbagai bidang sekaligus.
Tumbuh dari Tanah Luwu
Asri Tadda lahir di Pabeta, Desa Manurung, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Ia berasal dari komunitas To Padoe dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat Luwu yang kental dengan nilai kebersamaan, pendidikan, dan semangat merantau. Sejak tahun 2008, ia menetap di Kota Makassar yang kemudian menjadi pusat aktivitas profesional dan organisasinya.
Baca Juga : Membangun Luwu Raya Economic Corridor
Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN 419 Wulasi, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri Angkona II—yang kini dikenal sebagai SMPN 3 Luwu Timur. Pada tahun 1999, ia hijrah ke Makassar untuk menempuh pendidikan di SMAN 1 Makassar.
Pilihan akademiknya memperlihatkan ketertarikan pada isu kesehatan masyarakat. Asri melanjutkan pendidikan di Universitas Hasanuddin melalui Fakultas Kedokteran dan meraih gelar Sarjana Kedokteran.
Ia kemudian memperdalam kajian pada bidang Hukum Kesehatan melalui program magister di fakultas hukum universitas yang sama. Setelah itu, ia melanjutkan studi doktoral pada bidang Kesehatan Masyarakat.
Kombinasi disiplin ilmu kesehatan, hukum, dan kebijakan publik inilah yang kemudian banyak memengaruhi aktivitas sosial dan pemikirannya di kemudian hari.
Aktivis Sejak Mahasiswa
Jauh sebelum dikenal sebagai pengusaha dan tokoh politik, Asri lebih dahulu menorehkan jejak sebagai aktivis kampus. Saat menjadi mahasiswa, ia dipercaya memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas periode 2001–2002. Ia juga aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), LKMI-HMI, IPMIL Raya, serta IPMA-Lutim.
Pengalaman organisasi tersebut membentuk kemampuan kepemimpinan dan jaringan sosial yang kelak menjadi modal penting dalam perjalanan kariernya.
Pelopor Bisnis Digital dari Timur Indonesia
Salah satu fase paling menarik dalam perjalanan Asri Tadda adalah kiprahnya di dunia digital saat internet masih belum menjadi arus utama di Indonesia.
Berawal dari hobi menulis blog pada pertengahan 2000-an, ia mulai mendalami berbagai model bisnis berbasis internet.
Dari aktivitas blogging dan periklanan digital, ia berhasil membangun sumber pendapatan yang cukup besar pada masa itu. Bahkan ketika masih berstatus mahasiswa, usahanya pernah menghasilkan omzet ratusan juta rupiah per tahun melalui jaringan blog dan layanan pemasaran digital.
Prestasinya mendapat pengakuan nasional ketika meraih Juara II Nasional kategori mahasiswa dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri 2008. Prestasi tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang mengukuhkan namanya sebagai entrepreneur muda dari kawasan Indonesia Timur.
Pada 26 Januari 2009, ia mendirikan perusahaan digital marketing dan internet advertising bernama AstaMedia Group, yang menyediakan layanan pengembangan website, optimasi mesin pencari (SEO), pemasaran digital, hingga pelatihan bisnis internet.
Aktivis Sosial dan Literasi Kesehatan
Meski aktif sebagai pebisnis, Asri tidak meninggalkan minatnya pada isu kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
Ia mendirikan Madising Foundation, sebuah lembaga yang bergerak dalam kajian, penelitian, dan advokasi pelayanan kesehatan. Selain itu, ia juga mengembangkan berbagai platform literasi kesehatan yang bertujuan menyediakan informasi kesehatan yang mudah dipahami masyarakat.
Pada tahun 2019, ia menerbitkan buku antologi berjudul Indonesia Masih Sakit, yang merefleksikan pandangannya mengenai berbagai persoalan sosial dan kesehatan di Indonesia.
Kepeduliannya terhadap isu sosial juga terlihat melalui inisiasi gerakan Makassar Halal Movement (MARHAM) yang mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi produk halal.
Mengabdi untuk Tana Luwu
Sebagai putra Luwu Timur, hubungan emosional Asri dengan kawasan Tana Luwu tetap terjaga kuat.
Ia mendirikan The Sawerigading Institute, lembaga kajian yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia dan pembangunan kawasan Luwu Raya.
Melalui berbagai tulisan, diskusi, dan aktivitas advokasi, ia secara konsisten mengangkat isu-isu strategis yang berkaitan dengan masa depan Luwu Raya.
Selain itu, ia aktif dalam berbagai organisasi paguyuban masyarakat Luwu, termasuk sebagai Sekretaris Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulawesi Selatan dan Wakil Ketua Kerukunan Keluarga Luwu Timur (KKLT).
Dari Relawan Perubahan ke Juru Bicara Politik
Keterlibatan Asri dalam politik nasional mulai terlihat ketika ia menjadi salah satu penggerak awal gerakan relawan untuk Anies Baswedan pada tahun 2021.
Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DPP Mileanies, salah satu simpul relawan pertama yang secara terbuka mendukung Anies menuju Pilpres 2024. Organisasi tersebut kemudian berkembang menjadi bagian penting dalam jaringan relawan nasional yang lebih besar.
Pada Pilpres 2024, Asri dipercaya menjadi Juru Bicara Tim Pemenangan Daerah AMIN Sulawesi Selatan. Setelah kontestasi nasional berakhir, ia tetap aktif mengonsolidasikan jaringan relawan perubahan di daerah.
Dalam Pilgub Sulawesi Selatan 2024, ia kembali tampil ke ruang publik sebagai juru bicara pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Moh. Ramdhan "Danny" Pomanto dan Azhar Arsyad. Penunjukan tersebut semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu komunikator politik yang cukup dikenal di Sulawesi Selatan.
Penulis dan Pengelola Ekosistem Media
Selain aktivitas organisasi dan politik, Asri juga dikenal sebagai penulis produktif. Melalui blog pribadinya, ia rutin menulis tentang kepemimpinan, kesehatan, kewirausahaan, pembangunan daerah, hingga refleksi sosial-politik.
Ia juga mengembangkan sejumlah jaringan media digital yang berfokus pada isu kesehatan, pembangunan daerah, dan dinamika masyarakat Luwu Raya.
Aktivitas ini menjadikannya salah satu figur yang memadukan dunia literasi, media digital, dan gerakan sosial dalam satu ekosistem kerja yang saling terhubung.
Sehat, Berdaya, dan Beradat
Jika harus diringkas dalam tiga kata, perjalanan hidup Asri Tadda dapat digambarkan melalui slogan yang sering ia gunakan sendiri: "Sehat, Berdaya, dan Beradat."
Ketiga nilai tersebut terlihat menjadi benang merah dalam berbagai aktivitasnya—mulai dari pendidikan kesehatan, pemberdayaan ekonomi digital, penguatan identitas budaya Luwu, hingga keterlibatan dalam ruang politik dan pembangunan daerah.
Dari seorang mahasiswa kedokteran yang menghabiskan waktu di warnet untuk belajar blogging, hingga menjadi pengusaha digital, aktivis sosial, tokoh paguyuban, dan komunikator politik, perjalanan Asri Tadda menunjukkan bagaimana kombinasi pendidikan, organisasi, dan ketekunan dapat melahirkan pengaruh yang melampaui satu bidang profesi semata. (Diolah dari berbagai sumber).






Komentar Via Facebook :