Hasbi Syamsu Ali: Membangun Jalan, Menyambung Jejaring
Ir. H. Hasbi Syamsu Ali, MM (Ketua BPW KKLR Sulawesi Selatan)
Lebih dari tiga dekade berada di dunia konstruksi membentuk Hasbi Syamsu Ali sebagai insinyur sekaligus pengusaha. Namun perjalanan itu tidak berhenti pada jalan dan jembatan. Ia kemudian membangun organisasi, memperluas jejaring, mengembangkan dunia usaha, membina olahraga, dan ikut mengonsolidasikan cita-cita masyarakat Luwu Raya.
___________________
Ada orang yang membangun sesuatu untuk kemudian dikenang. Ada pula yang sepanjang hidupnya justru terus berpindah dari satu ruang pembangunan ke ruang lainnya. Ir. H. Hasbi Syamsu Ali, MM tampaknya termasuk golongan yang kedua.
Lebih dari tiga dekade perjalanan profesionalnya telah membawanya dari lapangan proyek jalan dan jembatan ke ruang-ruang organisasi profesi, dunia usaha, alumni, olahraga, hingga gerakan sosial-kemasyarakatan.
Di tengah lintasan yang begitu panjang itu, ada satu kata yang terasa paling tepat untuk menggambarkan perjalanan Hasbi, yaitu membangun.
Sebagai insinyur sipil, ia membangun jalan dan jembatan. Ia membangun perusahaan sebagai pengusaha. Membangun organisasi melalui jejaring profesi dan alumni. Membangun ruang kolaborasi di lingkungan KKSS dan KKLR. Membangun pembinaan olahraga melalui PERGATSI. Dan kini Hasbi ikut membangun sebuah cita-cita kolektif masyarakat Tana Luwu, yakni Provinsi Luwu Raya.
Cerita tentang Hasbi, karena itu, sesungguhnya bukan cerita tentang banyaknya jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya. Ini adalah cerita tentang bagaimana pengalaman profesional perlahan berubah menjadi modal sosial, dan bagaimana modal sosial itu kemudian digunakan untuk mengabdi lebih luas.
Belajar Membangun dari Lapangan
Hasbi lahir pada 26 November 1964. Pendidikan dasarnya ditempuh di Bantaeng, sebelum melanjutkan pendidikan menengah di Ujung Pandang. Ia kemudian memilih Teknik Sipil Universitas Hasanuddin sebagai jalan profesionalnya dan menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1991.
Dua puluh satu tahun kemudian, ia kembali ke almamater yang sama untuk menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen. Pilihan tersebut kelak terbukti penting. Sebab perjalanan Hasbi bukan hanya tentang menjadi seorang insinyur yang memahami bagaimana sebuah konstruksi berdiri. Ia juga harus memahami bagaimana manusia, modal, organisasi dan risiko dikelola.
Sejak awal karier, ia memang sudah akrab dengan dunia yang sangat konkret. Pada 1988, ia terlibat dalam pekerjaan soil investigation pembangunan Gedung BRI di Ujung Pandang. Setahun kemudian ia masuk ke pekerjaan over runway Bandara Hasanuddin. Setelah itu, ia terlibat dalam rehabilitasi Pelabuhan Soekarno-Hatta, peningkatan jalan Pinrang-Rappang-Pangkajene, pembangunan jalan Kao-Boso di Halmahera, hingga berbagai pekerjaan jembatan dan sungai di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Jalur profesional itu terus berlanjut. Ada jalan Majene-Mamuju. Ada pekerjaan jembatan di Barru, Takalar dan Jeneponto. Ada perkuatan tebing Sungai Ammasangan di Luwu. Ada proyek irigasi di Bone. Ada pekerjaan jalan di Mamuju, Majene, Polmas dan Pinrang. Kemudian berbagai proyek jalan, jembatan dan penanganan bencana di Sulawesi Tenggara dan wilayah lainnya.
Di lapangan seperti itulah seorang insinyur ditempa. Jalan tidak pernah hanya soal aspal. Jembatan tidak hanya soal beton dan baja. Di balik sebuah proyek selalu ada kondisi tanah, cuaca, manusia, anggaran, waktu, keselamatan, spesifikasi teknis dan risiko yang harus dikelola secara bersamaan.
Mungkin di situlah fondasi karakter Hasbi terbentuk. Ia belajar bahwa pekerjaan besar tidak pernah selesai oleh satu orang. Ada struktur yang harus dirancang, tetapi ada pula manusia yang harus disatukan.
Dari Profesional Menjadi Pemimpin Perusahaan
Setelah pengalaman panjang di lapangan, Hasbi dipercaya menjadi Kepala PT Hutama Karya Cabang VI-B Sulselratengbar dan Maluku pada 2005–2006. Setelah itu, ia mengambil keputusan penting dalam perjalanan kariernya: membangun perusahaan sendiri.
Sejak 2006, ia tercatat sebagai Direktur Utama sekaligus pemilik PT Wiratama Karya Nugraha (WKN). Hari ini, WKN tercatat dalam database GAPENSI dengan Hasbi sebagai pimpinan dan kualifikasi badan usaha Besar (B).
Keputusan menjadi pengusaha membawa tantangan yang berbeda. Jika seorang profesional bertanggung jawab terhadap pekerjaan, seorang pengusaha harus bertanggung jawab terhadap keseluruhan ekosistem: perusahaan, pekerja, keuangan, keberlanjutan usaha, reputasi, sekaligus kepercayaan mitra.
Hasbi menjalaninya melalui proyek-proyek yang terus berkembang. Dalam catatan profesionalnya, WKN menangani puluhan pekerjaan jalan, jembatan dan preservasi infrastruktur di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan wilayah lainnya.
Salah satu proyek yang mendapat perhatian publik adalah lanjutan penanganan longsoran ruas Watampone-Pompanua-Ulugalung pada 2021. Kontraknya ditandatangani Hasbi selaku Direktur Utama WKN dengan nilai Rp47,17 miliar dan panjang penanganan 401 meter.
Namun proyek-proyek tersebut hanya sebagian dari perjalanan panjang WKN. Dalam CV yang disusun pada Mei 2026, tercatat pekerjaan preservasi jalan dan jembatan Batas Wajo-Belopa-Palopo-Batas Luwu Selatan pada 2020 senilai sekitar Rp58,39 miliar, pekerjaan lanjutan pada 2023 sekitar Rp61,87 miliar, hingga pekerjaan preservasi ruas yang sama pada 2026 senilai sekitar Rp34,71 miliar.
Angka-angka itu memperlihatkan bahwa dunia usaha Hasbi bukan sekadar episode setelah karier profesionalnya. Ia telah menjadi bagian penting dari identitas profesionalnya.
Menuju Diversifikasi Usaha
WKN Group yang dipimpin Hasbi menaungi sejumlah entitas usaha dengan bidang yang beragam: PT Wiratama Karya Nugraha, Konstrindo Utama Nusantara, PT Kawan Lama Sejahtera Bersama, PT Rantau Bugis Makassar Persada, PT Wira Min.id Internasional, CV Toromata Karya Ramdhani, dan CV Exindo yang bergerak di bidang konsultansi.
Bidangnya juga beragam, mulai dari konstruksi dan spesialisasi pekerjaan tertentu hingga pertambangan, percetakan sawah, pertanian dan konsultansi.
Jika informasi ini dibaca bersama perjalanan profesional Hasbi, terlihat adanya perubahan dari seorang kontraktor menjadi seorang entrepreneur yang membangun portofolio usaha.
Itu bukan sekadar ekspansi bisnis. Ada cara berpikir yang berbeda di sana. Seorang profesional menyelesaikan pekerjaan. Seorang pengusaha membangun perusahaan. Sementara entrepreneur mulai berpikir bagaimana menciptakan beberapa ruang usaha yang dapat tumbuh dan saling melengkapi.
Dengan pengalaman panjang di lapangan, Hasbi tampaknya memahami bahwa dunia usaha tidak bisa hanya bergantung pada satu proyek atau satu sektor. Fondasi harus kuat. Tetapi struktur juga harus mampu beradaptasi.
Pengalaman Menjadi Pengabdian Profesi
Menariknya, semakin berkembang sebagai pengusaha, Hasbi justru semakin aktif di organisasi profesi. Sejak akhir 1990-an, ia mulai terlibat sebagai Wakil Ketua DPD Asosiasi Aspal Beton Indonesia (AABI) Sulsel. Kemudian menjadi Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Sulsel sejak 2000, Wakil Ketua GAPENSI sejak 2006, serta Wakil Ketua KADIN Sulawesi Selatan sejak 2011.
Ia juga pernah menjadi Wakil Ketua DPD Asosiasi Tenaga Teknik Indonesia (ASTTI) Sulsel dan kemudian dipercaya memimpin Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Sulsel periode 2016–2020.
Di titik ini terlihat perubahan penting. Hasbi tidak lagi hanya berbicara atas nama perusahaan, tetapi juga atas nama profesi. Pengalaman sebagai pelaku industri membuatnya memahami persoalan konstruksi dari dalam. Organisasi kemudian memberinya ruang untuk membawa pengalaman tersebut ke tingkat yang lebih luas. Dari kepentingan perusahaan menuju kepentingan ekosistem. Dari pekerjaan individual menuju agenda bersama.
Jalan Sebagai Profesi, Jalan Sebagai Pengabdian
Keterlibatan Hasbi dalam Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) juga memiliki perjalanan panjang. Ia tercatat sebagai Wakil Ketua DPD HPJI Sulsel sejak 2020 dan kemudian menjadi Sekretaris DPD HPJI Sulsel sejak 2025.
Posisi tersebut terasa relevan dengan perjalanan profesionalnya. Hampir seluruh karier Hasbi bersinggungan dengan jalan dan jembatan. Tetapi bagi pembangunan daerah, jalan memiliki makna yang lebih luas daripada konstruksi fisik.
Jalan menghubungkan desa dengan kota. Menghubungkan petani dengan pasar. Menghubungkan kawasan produksi dengan pusat ekonomi. Dan memperpendek jarak masyarakat dengan pelayanan publik. Karena itu, pengalaman membangun jalan pada akhirnya menjadi pengalaman memahami bagaimana sebuah wilayah dapat tumbuh.
Organisasi Alumni dan Seni Menyambungkan Manusia
Setelah bertahun-tahun berada di dunia profesi, Hasbi membawa pengalaman organisasinya ke ruang alumni. Ia aktif dalam Ikatan Alumni Teknik Sipil Universitas Hasanuddin dan dipercaya memimpin IKATSI sejak 2020.
Di ruang ini, ia berhadapan dengan persoalan yang berbeda. Bukan lagi bagaimana menyelesaikan proyek. Melainkan bagaimana menjaga hubungan antargenerasi. Bagaimana seorang alumni tetap merasa memiliki almamater. Bagaimana pengalaman profesional dapat dibagikan. Dan bagaimana jaringan alumni dapat berubah menjadi kekuatan sosial.
Cara pandang Hasbi terhadap alumni kemudian berkembang menjadi lebih luas. Jejaring alumni, menurutnya, bukan sekadar aset emosional. Ia merupakan modal sosial yang dapat digunakan untuk membantu pembangunan.
Para alumni tersebar di pemerintahan, perusahaan, kampus, dunia usaha dan berbagai profesi. Jika mereka dapat dipertemukan, kapasitas yang tersebar itu dapat berubah menjadi energi kolektif.
Di sinilah Hasbi mulai membangun sesuatu yang berbeda dari jalan dan jembatan, yakni infrastruktur sosial.
“Sirui Menre Tessirui No’”
Jejaring itu kemudian membawanya ke rumah besar masyarakat Sulawesi Selatan. Hasbi tercatat sebagai pengurus BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) sejak 2020.
Pada 2025, ia mendapat kepercayaan menjadi Koordinator Expo PSBM XXV dan Mubes XII KKSS. Di ruang KKSS, ia membawa satu falsafah yang kemudian terasa sangat dekat dengan cara pandangnya: Sirui Menre Tessirui No’. Yang naik tidak meninggalkan yang lain.
Falsafah itu dapat dibaca sebagai etika sosial sekaligus etika kepemimpinan. Keberhasilan seseorang tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan orang lain. Sebaliknya, keberhasilan harus menciptakan ruang agar lebih banyak orang ikut naik.
Prinsip itu menjelaskan mengapa Hasbi sering menekankan pentingnya jejaring, pemberdayaan, pendidikan, kewirausahaan dan kolaborasi. Sebab bagi dia, organisasi tidak akan berarti apabila hanya menghasilkan kebanggaan bagi pengurusnya. Organisasi harus menghasilkan manfaat bagi orang-orang di dalamnya.
Dari Rumah Besar Sulsel ke Tanah Asal Luwu
Dari KKSS, perjalanan Hasbi bersentuhan semakin erat dengan identitas Luwu. Ia dipercaya memimpin Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulawesi Selatan.
Di sini, organisasi tidak lagi hanya berbicara tentang hubungan sosial, tetapi juga menyentuh sesuatu yang lebih dalam, mulai dari sejarah, identitas, tanah asal, kebudayaan dan masa depan.
Namun Hasbi tampaknya tidak ingin KKLR berhenti sebagai organisasi paguyuban. Ia mendorong agar jejaring Wija To Luwu dapat menjadi kekuatan pembangunan—baik melalui pengembangan sumber daya manusia, kewirausahaan, jaringan profesional maupun kontribusi terhadap agenda pembangunan daerah.
Karena itu, ketika berbicara kepada generasi muda, ia sering membawa pesan kewirausahaan. Anak muda tidak cukup hanya mengkritik keadaan. Mereka perlu menciptakan sesuatu. Membangun usaha. Menciptakan lapangan kerja. Dan mengambil bagian dalam perubahan.
Pesan itu terasa kuat justru karena disampaikan oleh seseorang yang menjalani sendiri perjalanan panjang dunia usaha.
Perjuangan Provinsi Luwu Raya
Perjalanan tersebut kemudian membawa Hasbi ke agenda yang lebih besar: perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya. Di sini seluruh pengalaman sebelumnya seperti bertemu.
Seorang insinyur memahami pembangunan. Seorang pengusaha memahami ekonomi. Seorang organisator memahami konsolidasi. Seorang tokoh diaspora memahami jejaring masyarakat.
Semua modal tersebut diperlukan dalam perjuangan pemekaran. Karena pemekaran daerah bukan sekadar persoalan administratif. Ikhtiar itu membutuhkan kajian, dokumen, argumentasi, dukungan masyarakat, komunikasi dengan pemerintah, dan kemampuan menyatukan berbagai kepentingan.
Dalam proses konsolidasi 2026, Hasbi bergerak menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah, tokoh adat, akademisi, organisasi kemasyarakatan dan berbagai kelompok Wija To Luwu. KKLR bahkan menggambarkan perannya sebagai salah satu lokomotif gerakan Luwu Raya di Sulawesi Selatan.
Yang menarik, ia tidak melihat moratorium DOB sebagai alasan untuk berhenti. Menurut Hasbi, moratorium bukan keputusan permanen dan perjuangan harus terus dipersiapkan agar ketika kebijakan dibuka, Luwu Raya sudah berada dalam posisi siap.
Ada logika seorang kontraktor di balik pendekatan itu. Pekerjaan besar harus disiapkan sebelum pekerjaan dimulai. Ketika kesempatan datang, fondasi harus sudah ada.
Cara Hasbi memandang perjuangan Luwu Raya juga berkembang. Pertanyaannya bukan lagi semata mengapa Luwu Raya membutuhkan provinsi baru, tetapi apa yang dapat diberikan Luwu Raya kepada Indonesia apabila menjadi provinsi.
Perubahan pertanyaan itu penting. Sebab sebuah wilayah tidak cukup hanya datang membawa daftar persoalan. Ia juga harus membawa gagasan tentang kontribusi.
Luwu Raya memiliki sumber daya mineral, pertanian, perkebunan, perikanan, wilayah pesisir, konektivitas dan potensi sumber daya manusia. Semua itu dapat menjadi basis bagi pertumbuhan kawasan Indonesia timur.
Kajian akademik yang disusun bersama tim kemudian dibawa ke Jakarta dan dipresentasikan kepada Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman pada Juli 2026.
Pada tahap itu, perjuangan Luwu Raya mulai diletakkan dalam narasi yang lebih luas: bukan hanya kepentingan lokal, tetapi kemungkinan menjadi bagian dari strategi pembangunan kawasan timur Indonesia.
Tak Ingin Masa Depan Hanya Bergantung Pada Tambang
Di tengah besarnya potensi nikel Luwu Timur, Hasbi juga melihat tantangan yang tidak kalah penting. Bagaimana memastikan kekayaan sumber daya alam menghasilkan manfaat jangka panjang?
Jawabannya, menurut arah gagasan yang ia dorong, tidak bisa hanya melalui eksploitasi mineral. Pertanian harus berkembang. Perikanan harus diperkuat. Agroindustri harus tumbuh. Pengusaha lokal harus memiliki ruang. Anak muda harus memiliki keterampilan. Dan nilai tambah harus lebih banyak tinggal di daerah.
Sebab sumber daya alam pada akhirnya memiliki batas. Sementara kualitas manusia seharusnya tidak.
Dalam perspektif ini, pembangunan daerah bukan hanya soal membangun jalan menuju kawasan tambang. Tetapi juga membangun manusia yang kelak mampu mengelola ekonomi setelah komoditas berubah.
Itulah mengapa Hasbi mendorong jejaring alumni dan profesional ikut mengambil peran dalam pengembangan sektor non-tambang.
Olahraga: Membangun Manusia Dari Lapangan Yang Berbeda
Di tengah semua aktivitas tersebut, ada ruang lain yang mungkin tampak tidak berhubungan: olahraga. Tetapi Hasbi sebenarnya bukan pendatang baru di Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (PERGATSI). Di sini, Hasbi tercatat sebagai Wakil Ketua PERGATSI Sulsel sejak 2017. Pada 2026, ia dipercaya menjadi Ketua Umum Pengprov PERGATSI Sulsel untuk masa bakti 2025–2029.
Menjelang pelantikan dan Rakerprov, agenda yang disiapkan mencakup penguatan organisasi, pembinaan atlet, peningkatan kapasitas pelatih dan wasit, penguatan klub, serta persiapan menghadapi Kejurnas Gateball 2026 dan PORPROV XVIII Sulsel.
Sekali lagi, pola yang sama muncul. Bukan sekadar pertandingan. Tetapi ekosistem. Atlet membutuhkan pelatih. Pelatih membutuhkan sistem. Klub membutuhkan organisasi. Dan organisasi membutuhkan visi jangka panjang.
Olahraga menjadi ruang lain bagi Hasbi untuk menjalankan sesuatu yang sejak awal telah menjadi bagian dari dirinya, yakni membangun manusia melalui sistem.
Sang Organisatoris
Jika perjalanan Hasbi ditarik dari ujung ke ujung, ada satu hal yang menjadi semakin jelas. Ia bukan sekadar orang yang kebetulan memiliki banyak jabatan. Ada proses panjang di baliknya. AABI sejak 1999. PII sejak 2000. GAPENSI sejak 2006. KADIN sejak 2011. ASTTI. LPJK. HAKKI. PERGATSI. KKLR. KKSS. IKATSI dan HPJI.
Lintasan tersebut memperlihatkan bahwa budaya organisasional dalam diri Hasbi sudah tumbuh bersamaan dengan karier profesionalnya. Ia tidak menjadi organisator setelah berhenti menjadi profesional. Keduanya berkembang bersama.
Itulah yang membuat pendekatannya di berbagai organisasi memiliki pola serupa. Ia cenderung membangun struktur. Menghubungkan orang. Mencari titik temu. Mendorong program. Dan menjaga kesinambungan.
Kepemimpinan Tanpa Panggung Kekuasaan Formal
Ada satu hal yang membuat perjalanan Hasbi menarik dalam konteks Sulawesi Selatan. Ia bukan kepala daerah, bukan anggota parlemen, juga bukan pejabat negara. Tetapi ia dapat berada di ruang yang mempertemukan pejabat pemerintahan, pengusaha, akademisi, tokoh adat, profesional, atlet, alumni dan masyarakat.
Pengaruh seperti itu tidak datang dari kewenangan formal. Ia dibangun dari pengalaman dan kepercayaan. Dari hubungan yang dirawat bertahun-tahun. Dari kesediaan hadir ketika organisasi membutuhkan. Dan dari kemampuan berbicara dengan kelompok yang berbeda.
Dalam pengertian itu, Hasbi mewakili bentuk kepemimpinan yang semakin penting dalam masyarakat modern, yakni kepemimpinan berbasis jejaring. Ia tidak selalu menjadi orang yang paling berkuasa di dalam ruangan. Tetapi ia berusaha menjadi orang yang dapat menghubungkan banyak orang di dalam ruangan.
Membawa Logika Konstruksi ke Kehidupan Sosial
Mungkin di sinilah metafora “membangun” menemukan maknanya. Seorang insinyur tahu bahwa bangunan yang kokoh membutuhkan fondasi. Seorang pengusaha tahu bahwa perusahaan membutuhkan keberanian dan manajemen risiko. Seorang organisator tahu bahwa tujuan besar membutuhkan kerja kolektif. Dan seorang pemimpin masyarakat tahu bahwa cita-cita hanya akan bertahan apabila menjadi milik bersama.
Hasbi menjalani keempat dunia tersebut. Karena itu, tidak mengherankan jika kata-kata seperti fondasi, jaringan, konsolidasi, kapasitas, kolaborasi dan keberlanjutan berulang dalam berbagai ruang yang ia masuki. Itu bukan sekadar bahasa organisasi. Itu bahasa seseorang yang lama bekerja dalam dunia konstruksi.
Bedanya, objek yang dibangunnya sekarang semakin abstrak. Bukan hanya jalan tetapi juga kepercayaan. Bukan hanya jembatan melainkan juga hubungan antarmanusia. Bukan hanya struktur, tetapi juga organisasi. Bukan hanya proyek, tetapi cita-cita.
Dari Jalan Yang Menghubungkan Wilayah Hingga Jejaring Yang Menghubungkan Manusia
Ada semacam kesinambungan yang menarik dalam perjalanan Hasbi. Selama puluhan tahun, ia membangun jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Kini ia banyak menghabiskan waktunya membangun jejaring yang menghubungkan manusia dengan manusia lain.
Dulu ia bekerja dengan beton, baja, tanah dan aspal. Kini ia bekerja dengan gagasan, kepercayaan, komunikasi dan konsensus.
Tetapi prinsipnya tetap sama. Sesuatu yang besar tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan fondasi. Ia membutuhkan struktur. Ia membutuhkan orang-orang yang bekerja bersama. Dan ia membutuhkan perawatan agar tetap bertahan.
Mungkin itulah sebabnya pengalaman sebagai insinyur justru menjadi modal penting ketika Hasbi masuk semakin jauh ke dunia sosial. Ia memahami bahwa tidak ada bangunan yang kokoh tanpa pekerjaan yang sabar di bawah permukaan. Begitu pula sebuah organisasi. Begitu pula sebuah gerakan.
Makna “Tumbuh Bersama”
Pada akhirnya, falsafah Sirui Menre Tessirui No’ yang sering dibawa Hasbi ke ruang publik terasa seperti menemukan tempatnya sendiri dalam perjalanan hidupnya. Jika satu naik, yang lain tidak ditinggalkan.
Jika diterjemahkan ke dalam perjalanan Hasbi, keberhasilan profesional tidak berhenti pada perusahaan.
Ia masuk ke organisasi profesi. Organisasi menjadi ruang berbagi. Jejaring alumni menjadi modal pembangunan. KKSS menjadi rumah yang lebih luas. KKLR menjadi ruang pengabdian yang lebih dekat dengan tanah asal. PERGATSI menjadi ruang pembinaan generasi. Dan perjuangan Luwu Raya menjadi cita-cita kolektif yang membutuhkan banyak orang.
Dengan kata lain, perjalanan tersebut tidak bergerak dari “saya” menuju “saya yang lebih besar”, tetapi perlahan dari “saya” menuju “kita”. Di situlah mungkin letak nilai terdalam dari perjalanan seorang organisator.
Perjalanan Belum Selesai
Pada 2026, Hasbi berada di titik yang menarik. Ia telah melewati lebih dari tiga dekade dunia profesional. Ia telah membangun perusahaan dan memperluas portofolio usaha. Ia telah melewati berbagai organisasi profesi. Ia telah memimpin jejaring alumni. Ia menjadi bagian dari KKSS. Ia memimpin KKLR. Ia dipercaya memimpin PERGATSI Sulsel. Dan ia ikut berada di garis depan konsolidasi Provinsi Luwu Raya.
Namun tidak satu pun dari perjalanan itu benar-benar selesai. Dunia usaha terus berubah. Organisasi selalu membutuhkan regenerasi. Olahraga membutuhkan pembinaan berkelanjutan. Masyarakat membutuhkan ruang kolaborasi. Dan perjuangan Luwu Raya masih membutuhkan kerja panjang.
Tetapi mungkin memang begitu kehidupan seorang pembangun. Satu proyek selesai, proyek lain menunggu. Satu fondasi berdiri, fondasi berikutnya harus disiapkan. Satu generasi tumbuh, generasi berikutnya harus diberi jalan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seseorang bukanlah panjangnya daftar jabatan yang pernah melekat di belakang namanya. Melainkan berapa banyak orang yang menjadi lebih kuat karena pernah berjalan bersamanya.
Dalam perjalanan Hasbi, jawabannya tersebar di banyak tempat. Pada jalan dan jembatan yang pernah dikerjakannya. Pada perusahaan yang dibangunnya. Pada profesi yang diperjuangkannya. Pada alumni yang disatukannya. Pada organisasi yang diperkuatnya. Pada atlet yang dibinanya. Pada jejaring yang dipertemukannya. Dan pada cita-cita sebuah kawasan yang hingga hari ini terus dijaganya agar tidak kehilangan arah.
Barangkali itulah cerita paling utuh tentang Ir. H. Hasbi Syamsu Ali, MM. Ia memulai dari dunia konstruksi, tetapi perjalanan hidup membawanya jauh melampaui konstruksi. Ia belajar membangun jalan, lalu belajar menyambungkan manusia. Ia membangun perusahaan, lalu membangun organisasi. Dan pada akhirnya, ia mencoba membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada hal-hal yang pernah ia kerjakan, yaitu sebuah masa depan yang memungkinkan lebih banyak orang tumbuh bersama. (*)







Komentar Via Facebook :