Cara Baru Komunikasi di Era New Normal Saat ini

Cara Baru Komunikasi di Era New Normal Saat ini

Jakarta- Memasuki Era Baru ditengah pandemik covid 19 banyak hal yang merubah cara hidup kita dari yang sebelumnya. segala sisi dalam kehidupan kita seketika berubah pasca covid 19 yang secara global penyebarannya di seluruh dunia.

Maka tidak heran sekarang ini banyak yang berubah dari segala sudut pandang kita beraktivitas sehari-hari, sebelumnya kita yang berkomunikasi langsung dengan orang-orang yang ada di sekitar kita, kini berubah menjadi komunikasi virtual. 

Komunikasi virtual yang dimaksud cara komunikasi kita yang berubah menjadi era digital yang menuntuk kita menjaga jarak dari orang-orang dan memakai gadget masing masing untuk bisa berkomunikasi. hal itu juga dilakukan untuk aktivitas pekerja. 

Dimana pekerja sekarang ini melakukan pekerjaanya melalui rumah mereka dan tetap seperti biasanya. Pasalnya, saat berkomunikasi secara virtual, tatap muka secara langsung dengan lawan bicara tidak bisa dilakukan. Bisa dibilang, sense of human atau rasa kepekaan dalam diri manusia akan secara otomatis berkurang. 
 
Pemimpin Redaksi Kompas TV Rosianna Silalahi mengatakan, komunikasi virtual cenderung kurang menghadirkan energi dibandingkan berbicara langsung. 

“Kita juga cenderung tidak mendapatkan kehangatan dan tidak bisa melihat senyum lawan bicara secara langsung. Namun, dunia sedang mengalami perubahan, oleh karena itu kita harus siap,” ujar perempuan yang akrab disapa Rosi, Jumat (12/6/2020). 

Hal tersebut Rosi sampaikan ketika memberikan pelatihan soft skills secara online, "Leadership Development Series" untuk Beswan Djarum 2019/2020. Dalam kelas ini, Rosi membawakan tema “Berkomunikasi di New Normal: Building Trust in Virtual Communication” di hadapan ratusan penerima Djarum Beasiswa Plus. 

Tampilan diri jadi solusi Memang, membangun kepercayaan orang lain saat berkomunikasi secara virtual jadi tantangan tersendiri di era ini. Namun, tak sepenuhnya tantangan tersebut menjadi hambatan. 

“Hal yang terpenting adalah bagaimana kita berbicara dan mau seperti apa terlihat oleh lawan bicara saat berkomunikasi virtual,” jelas Rosi pada pelatihan online tersebut.

Apa yang dimaksud Rosi sangat beralasan. Sebab, tampilan diri secara virtual keberadaannya cukup vital. Meskipun tampilan diri mungkin hanya sebatas pas foto atau medium close up, bagian itulah yang seharusnya bisa dimaksimalkan. 

Rosi pun mencontohkan, saat hendak melakukan percakapan virtual, pastikan terlebih dulu jenis atau tema acara yang diikuti. Bila para peserta yang secara notabene adalah mahasiswa ingin mempresentasikan sebuah project kepada pihak kampus, pakaian yang digunakan harus formal. 

“Berbeda halnya kalau mau reuni. Mungkin teman-teman bisa menggunakan pakaian kasual. Selain itu, pilihlah lokasi yang tepat juga, ya,” ujar perempuan yang pernah mewawancarai Mantan Presiden Amerika Serikat George Bush di Gedung Putih itu. 

Lokasi yang digunakan sebagai latar, lanjutnya, haruslah mempresentasikan tema acara yang hendak diikuti. Selain itu hindari pula keberadaan barang-barang pribadi yang sifatnya privasi, seperti tempat tidur, pakaian dalam, dan baju laundry. 

“Memang, ini juga jadi salah satu tantangan kita di Indonesia. Pasalnya, rata-rata masyarakat tinggal dengan keluarga besar dan kurang memiliki ruangan khusus untuk bekerja dan belajar. Meskipun begitu, kita bisa memilih pojok ruangan yang memberikan keleluasaan untuk berbicara” terang Rosi lagi. *red/nal


Redaksi
Komentar Via Facebook :