DBD Tewaskan Bayi 6 Bulan di Pekanbaru

DBD Tewaskan Bayi 6 Bulan di Pekanbaru

Line Pekanbaru - Memasuki pekan ke-13 di tahun ini, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Kota Pekanbaru terus bertambah. Bahkan, dilaporkan bayi berusia enam bulan meninggal dunia.

"Kita sudah konfirmasi memang ada korban meninggal akibat DBD di Rumah Sakit Santa Maria. Korban baru umurnya enam bulan,” kata Kepala Bidang Pengendalian Kesehatan Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru, Gustiyanti, di Pekanbaru, Rabu (5/4).

Gustiyanti menyebutkan korban meninggal akibat pembuluh darahnya pecah. "Korban dibawa ke rumah sakit pada hari ke empat, orangtuanya terlambat bawa ke rumah sakit," katanya.

Dia mengimbau orang tua agar peka terhadap kondisi anak. "Kalau sudah demam tinggi, jangan dianggap demam biasa. Langsung bawa ke rumah sakit," ujarnya.

Sebagai antisipasi merebaknya penyakit DBD, lanjut Gustiyanti, Diskes Pekanbaru langsung melakukan pengasapan atau fogging di sekitar rumah korban di Jalan Mawar, RT 3 RW 3, Kelurahan Padang Terubuk, Kecamatan Senapelan, Pekanbaru. "Setelah kita dapatkan konfirmasi, langsung kita laksanakan fogging," katanya.

Hingga pekan ke-13 di tahun ini, tambahnya, kasus DBD di Kota Pekanbaru telah mencapai 205 kasus. Meski demikian, status Kejadian Luar Biasa (KLB) belum bisa ditetapkan karena jumlah kasus itu masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun 2016.

"Karena jumlah kasus tahun ini jauh menurun dari periode yang sama tahun lalu makanya kami belum tetapkan status KLB," tukasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Nofrizal, mendesak Diskes Pekanbaru melakukan aksi nyata menekan penyebaran kasus DBD. Misalnya dengan melakukan pengasapan massal. "Apalagi sekarang sudah ada korban jiwa," katanya.

“Terserah apakah fogging kerja sama dengan perusahaan atau swasta. Atau program Diskes bersinergi dengan dinas lain,” tambahnya.

Tetapi anjuran Nofrizal itu ditolak Gustiyanti. Katanya, pengasapan massal tidak bisa sembarangan karena akan bisa menimbulkan kekebalan pada nyamuk Aedes Aegypti.

"Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, bukan jentik. Setelah fogging, nyamuk akan datang lagi. Satu nyamuk betina bisa bertelur hingga 200 jentik. Itu siklusnya," papar Gustiyanti.

Di sisi lain, racun fogging akan berdampak pada kerusakan lingkungan dan keracunan pada manusia. "Jadi, fogging hanya dilakukan di daerah yang banyak korban DBD," tukasnya.

Hal terpenting dilakukan adalah menerapkan Gerakan 3M Plus, yakni; menguras bak mandi, mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan air, dan menghindari gigitan nyamuk dengan kelambu dan memakai obat anti nyamuk.


 

Komentar Via Facebook :