WWF: Jaga Sungai Ingatkan Manusia Nikmati Alamnya

WWF: Jaga Sungai Ingatkan Manusia Nikmati Alamnya

Syngai Alam Asli

Sungai adalah bagian permukaan bumi yang letaknya lebih rendah dari tanah disekitarnya dan menjadi tempat mengalirnya air tawar menuju ke laut, danau, rawa atau sungai yang lain. Sungai, dari hulu ke hilir menjadi sumber kehidupan yang penting bagi kehidupan berbagai makhluk hidup.

Sungai bukan hanya milik manusia seorang, namun sungai juga merupakan habitat bagi makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Banyak satwa dan tumbuhan, juga makhluk hidup lain yang menjadikan sungai sebagai habitat mereka, juga masyarakat lokal yang menjadikan sungai sebagai urat nadi penghidupan mereka, tak bisa disangkal bahwa kelangsungan dan kesejahteraan hidup mereka bergantung pada sungai.

Tak hanya sebagai alat transportasi dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, masyarakat sekitar juga mengandalkan sungai sebagai sumber ekonomi. Namun pengembangan pembangunan di sekitar hutan yang tidak memperhatikan kawasan tangkapan air membuat ekosistem sungai terganggu. Hal ini menyebabkan terjadinya erosi, sedimentasi dan pencemaran.

Living Planet Report (LPR) yang dikeluarkan WWF di tahun 2016 menunjukkan secara global,  Living Planet Index (LPI) untuk  populasi air tawar menurun secara signifikan sebesar 81% terhitung dari tahun 1970 – 2012, dengan rata rata penurunan tahunan sebesar 3,9%. Penurunan ini terjadi karena adanya perubahan lingkungan, beberapa di antaranya adalah perubahan siklus air oleh manusia yang berdampak kepada iklim dan biosfer.

Hal ini berdampak kepada kematian 5 juta orang karena penyakit yang ditularkan melalui air setiap tahun. Di Indonesia sendiri beberapa pulau sudah mengalami defisit air, diantaranya pulau Jawa, Sulawesi, Bali, dan NTT.
 
Meski Sumatera masih memiliki surplus air tawar, namun saat ini keberadaan sumber-sumber air tawar tersebut terancam pencemaran yang diakibatkan aktivitas-aktivitas yang tidak ramah lingkungan seperti pertambangan, pembuangan limbah industri, limbah rumah tangga, dan aktivitas-aktivitas sosial lainnya.

Sungai Subayang adalah SUB DAS Kampar yang berperan sebagai urat nadi sumber air tawar bagi  sebagian daerah Riau dan Sumatera Barat. Keberadaannya sangat penting bagi sekitar 1 juta masyarakat yang hidup disekitar aliran sungai tersebut dari hulu hingga ke hilir.

Disamping itu, Rimbang Baling merupakan salah satu kawasan yang menjadi kunci keberlanjutan ekosistem di masa depan bagi Pulau Sumatera. Selain sebagai habitat beragam fauna langka dan flora unik, kawasan Rimbang Baling juga berperan penting secara hidrologis sebagai hulu dan daerah tangkapan air (catchment area) bagi beberapa sungai di Sumatera.

Hal ini didorong oleh peran penting sungai bagi masyarakat setempat, dari alat transportasi dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, hingga sumber perekonomian. Beragam kearifan lokal untuk menjaga sungai terancam konversi lahan menjadi perkebunan sawit dan berbagai usaha pertambangan ilegal.

Fakta-fakta tersebutlah yang  mendasari WWF Indonesia bekerjasama dengan HSBC untuk memprakarsai program penyadartahuan tentang isu air di Sungai Subayang, Rimbang Baling, melalui program Freshwater.

Sejak 2015, WWF bekerjasama dengan Universitas Riau (UNRI) untuk melakukan penelitian dan membangun Laboratorium Air Tawar alam dan rumah informasi di area sekitar desa Tanjung Belit, Rimbang Baling. Tujuan dari pengadaan fasilitas ini adalah untuk memberikan wadah kepada masyarakat Rimbang Baling untuk belajar serta berdiskusi lebih mendalam tentang air, dan mengapa air itu penting untuk kita lestarikan.

Harapannya, selain digunakan oleh masyarakat  Rimbang Baling, laboratorium ini juga bisa menjadi pusat penelitian mahasiswa mengenai hal-hal yang berhubungan dengan air dan sungai. WWF bersama berbagai pihak melakukan upaya proteksi sumber air di Rimbang Baling melalui pendekatan kepada masyarakat guna mempertahankan kelestariannya.

Adanya program Freshwater dengan membuat Laboratorium Air tawar alami di Sungai Subayang, Rimbang Baling akan menjadi wadah bagi keingintahuan masyarakat khususnya mahasiswa serta masyarakat Rimbang Baling akan pentingnya air dan kondisi air saat ini serta kaitannya antara air untuk kehidupan dan keseimbangan ekosistem, apalagi Rimbang Baling juga merupakan habitat harimau Sumatra yang sudah terancam punah. (Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada flyer/link berikut: Informasi Laboratorium Air Tawar Freshwater WWFID).

Laboratorium Air ini juga menjadi sinergi serta kolaborasi antara masyarakat di kawasan Rimbang Baling dengan masyarakat perkotaan didalam melakukan upaya untuk melindungi sumber sumber air tawar kita yang hanya 3% dari keseluruhan jumlah air didunia. Di Laboratorium Air ini, pengunjung bisa melakukan uji terhadap contoh air yang dibawa dari rumah atau sumber lain untuk mengetahui kondisi atau kualitas air yang biasa dikonsumsi sehari- hari.

Selain itu, pengunjung juga berkesempatan untuk mendapatkan pengetahuan tentang sumber dan manfaat air, serta banyak hal menarik lainnya tentang sungai dari seluruh Indonesia.

Selain itu, WWF Indonesia melalui Program Freshwater juga melakukan berbagai riset mengenai air tawar, salah satunya adalah melalui kegiatan monitoring kualitas air sungai Subayang yang dilakukan secara periodik.

Monitoring kualitas air dilakukan setiap bulan, dengan menggunakan parameter Fisika, Kimia dan Biologi. Kegiatan monitoring kualitas Air Sungai Subayang ini telah dimulai pada bulan Agustus 2016 dan berlangsung secara regular sampai dengan saat ini. kegiatan monitoring kualitas air sungai Subayang secara regular setiap bulan mulai dari Agustus 2016 sampai saat ini. (Hasil monitoring dapat dilihat pada flyer/link berikut: Informasi Hasil Monitoring Sungai Subayang_Freshwater WWFID).

Riset lain yang dilakukan adalah melakukan identifikasi untuk jenis-jenis ikan air tawar yang ada di Sungai Subayang. Berdasarkan penelitian  yang  telah dilakukan oleh Universitas Riau dan WWF Indonesia pada tahun 2015 bahwa terdapat lebih dari 72 jenis ikan di Sungai Subayang, beberapa diantaranya telah sulit untuk di temui di daerah lain.

(Hasil identifikasi jenis ikan di sungai Subayang dapat dilihat pada flyer/link berikut: Jenis Ikan Sungai Subayang_Freshwater_WWF-ID).

Sungai bukan sekedar jalinan air yang mengalir sampai ke muara, sungai adalah sumber kehidupan, riak airnya menyuburkan tanah dan kehidupan tetumbuhan di hutan, untuk menjadi sumber pakan satwa-satwa seperti Harimau dan lainnya. Layaknya jaringan media sosial dimana manusia terhubung didunia maya, Sungai adalah pusat jaringan ekosistem hutan.

Dalam semesta alam, ekosistem adalah keseimbangan yang menghubungkan jagad raya dan menggerakkan kehidupan. Ketika sungai tercemar, Hutan akan hancur, Ekosistem akan lumpuh, Satwa akan mati, Kita akan mati.

Saatnya menjernihkan kembali aliran sungai, lestarikan ekosistem hutan, selamatkan kehidupan. Selamat Hari Sungai Sedunia. Mari kita jaga Sungai untuk masa depan kehidupan!

Oleh: Agus, Freshwater Program WWF.

Komentar Via Facebook :