Limbah Kaleng Bekas Jadi Teknologi Antikorosi Beton, Tim Pakar Unhas Kaji Inovasi UMY
YOGYAKARTA – Limbah kaleng bekas berpotensi memiliki nilai guna lebih tinggi melalui inovasi teknologi perlindungan korosi pada beton. Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan Al Anoda, produk yang memanfaatkan material aluminium dari kaleng bekas sebagai anoda korban untuk membantu melindungi tulangan baja di dalam beton dari korosi.
Potensi inovasi tersebut menjadi perhatian tim pakar Universitas Hasanuddin (Unhas) yang melakukan kunjungan dan kajian di UMY, Sabtu (31/10/2026). Kajian ini diarahkan untuk menilai peluang pengembangan Al Anoda, mulai dari aspek teknis, pemasaran, keuangan, risiko, hingga legalitas produk.
Kunjungan berlangsung di Dasron Hamid Research Center, Laboratorium Teknik Sipil, dan Laboratorium Teknik Mesin UMY. Tim pakar Unhas dipimpin Muhammad Syahid, bersama Hairul Arsyad, Fitriwati Djam'am, Rudi, dan Hartono Tasir Irwanto.
Syahid menilai inovasi tersebut menarik karena menggabungkan pemanfaatan limbah yang mudah ditemukan di Indonesia dengan teknologi perlindungan infrastruktur yang diperkirakan semakin dibutuhkan.
“Produk inovasi dari UMY ini sangat menarik karena memanfaatkan barang bekas yang banyak ditemukan di Indonesia. Perlindungan korosi pada beton di Indonesia memang saat ini belum banyak dilakukan, tetapi ke depan akan semakin dibutuhkan, seperti di Jepang dan negara-negara maju lainnya,” ujar Syahid.
Aluminium Kaleng Bekas untuk Melindungi Tulangan Baja
Al Anoda dikembangkan oleh tim peneliti UMY yang dipimpin Pinta Astuti. Teknologi ini memanfaatkan aluminium dari limbah kaleng bekas sebagai sacrificial anode atau anoda korban.
Prinsip kerjanya menggunakan metode Sacrificial Anode Cathodic Protection (SACP), yakni perlindungan katodik dengan memanfaatkan logam yang lebih aktif untuk mengalami oksidasi terlebih dahulu. Dengan mekanisme tersebut, kecenderungan korosi pada logam yang dilindungi diharapkan dapat dikurangi.
Teknologi ini menyasar persoalan korosi pada tulangan baja yang menjadi salah satu tantangan dalam konstruksi beton bertulang. Korosi dapat dipicu oleh masuknya zat agresif, seperti ion klorida, maupun proses karbonasi beton yang mengganggu lapisan pasif pelindung baja.
Apabila berlangsung tanpa penanganan, korosi dapat mengurangi luas penampang tulangan, memicu retak dan pengelupasan beton, serta menurunkan kemampuan struktur dalam menahan beban. Dampaknya juga dapat meningkatkan biaya perbaikan dan pemeliharaan infrastruktur.
Dalam konteks tersebut, Al Anoda menawarkan dua potensi manfaat sekaligus: mendukung perlindungan tulangan baja beton dan mengubah limbah kaleng bekas menjadi material dengan nilai tambah.
Meski demikian, efektivitas perlindungan yang dihasilkan masih perlu dibuktikan melalui pengujian teknis, evaluasi kinerja elektrokimia, serta pemantauan ketahanan produk dalam berbagai kondisi lingkungan.
Tim Pakar Unhas Kaji Kesiapan Teknologi dan Peluang Pasar
Kajian tim pakar Unhas dilakukan secara multidisiplin untuk melihat kesiapan Al Anoda dari sisi teknologi hingga peluang penerapannya.
Hairul Arsyad bertanggung jawab mengkaji aspek teknis, Fitriwati Djam'am menelaah pemasaran, Rudi mengkaji keuangan dan risiko, sedangkan Hartono Tasir Irwanto menangani aspek legal.
Kajian tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis untuk mendukung pengembangan dan komersialisasi produk. Salah satu perhatian penting adalah proses pengolahan limbah kaleng bekas dan pengendalian mutu agar material anoda yang dihasilkan memiliki karakteristik serta kinerja sesuai standar yang dibutuhkan.
Dorong Hilirisasi Inovasi Perguruan Tinggi
Pengembangan Al Anoda yang dipimpin Pinta Astuti menunjukkan peluang pemanfaatan hasil penelitian perguruan tinggi untuk menjawab kebutuhan teknologi di sektor konstruksi sekaligus persoalan lingkungan.
Kunjungan dan kajian tim pakar Unhas menjadi bagian dari upaya menilai potensi inovasi tersebut secara lebih menyeluruh, mulai dari aspek teknis, kelayakan usaha, hingga peluang penerapan di masyarakat dan industri.
Melalui kajian ini, Al Anoda diharapkan memiliki landasan pengembangan yang lebih kuat sehingga pemanfaatan limbah kaleng bekas tidak berhenti sebagai gagasan penelitian, tetapi berpeluang menjadi solusi teknologi yang memberikan nilai tambah bagi sektor konstruksi. (*)






Komentar Via Facebook :