Darwis Ismail dan Jalan Panjang Menuju Provinsi Luwu Raya
Ketua BPP DOB Provinsi Luwu Raya H Darwis Ismail bersama KSP Jenderal Purn TNI Dudung Abdurachman (Foto: Humas KKLR)
DI BALIK menguatnya kembali perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya, ada sosok yang memilih bekerja dalam senyap. H. Darwis Ismail, ST., M.M.A., tidak membangun panggung untuk dirinya sendiri. Ia justru menghabiskan waktu menyatukan kembali simpul-simpul perjuangan yang selama bertahun-tahun berjalan sendiri-sendiri. Kini, estafet perjuangan itu membawanya hingga ke Kantor Staf Presiden.
Selasa, 14 Juli 2026 menjadi salah satu hari yang akan dikenang dalam perjalanan panjang perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya. Di ruang pertemuan Kantor Staf Presiden, Jakarta, belasan tokoh masyarakat, akademisi, dan pimpinan legislatif dari Luwu Raya duduk berhadapan dengan Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman.
Di hadapan mereka dipaparkan sebuah pendekatan yang berbeda dari perjuangan-perjuangan sebelumnya. Provinsi Luwu Raya tidak lagi dijelaskan semata sebagai kebutuhan pemekaran wilayah, tetapi mulai diposisikan sebagai kepentingan strategis nasional.
Di balik presentasi itu ada seorang pria yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi wajah baru perjuangan tersebut. Dialah Darwis Ismail.
Bagi banyak orang, momen itu mungkin hanya dipandang sebagai sebuah audiensi. Namun bagi Darwis dan rekan-rekannya, itu merupakan akumulasi dari perjalanan panjang yang tidak dibangun dalam hitungan minggu atau bulan, melainkan melalui konsolidasi yang berlangsung secara bertahap.
Menerima Estafet Perjuangan
Darwis Ismail bukanlah orang pertama yang memperjuangkan Provinsi Luwu Raya. Jauh sebelum dirinya dipercaya memimpin Badan Pekerja Pembentukan Daerah Otonom Baru (BPP DOB) Provinsi Luwu Raya, perjuangan tersebut telah diwariskan oleh banyak tokoh Tana Luwu sejak era reformasi.
Aspirasi pembentukan provinsi baru, lahir dari keinginan menghadirkan pemerintahan yang lebih dekat dengan masyarakat serta mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah utara Sulawesi Selatan.
Karena itu, ketika menerima amanah sebagai Ketua BPP DOB, Darwis memahami bahwa tugas utamanya bukan memulai perjuangan baru. Ia menerima estafet. Dan estafet itu harus dibawa melangkah lebih jauh.
Tumbuh dari Organisasi
Mereka yang mengenal Darwis mengetahui bahwa kepemimpinan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Alumnus Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin itu telah aktif berorganisasi sejak masa mahasiswa. Ia pernah memimpin berbagai organisasi kemahasiswaan sebelum kemudian berkiprah di organisasi profesi, dunia usaha, hingga organisasi kemasyarakatan.
Kariernya berkembang sebagai pengusaha nasional yang banyak beraktivitas di Jakarta. Namun, jejaring yang dibangunnya tidak pernah memutus hubungan dengan tanah kelahirannya di Luwu.
Melalui Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR), Darwis menjadi bagian dari diaspora yang terus menjaga ikatan dengan Tana Luwu. Pengalaman berorganisasi dan membangun jejaring lintas daerah inilah yang kemudian menjadi modal penting ketika dipercaya memimpin perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Menyatukan Simpul Perjuangan
Salah satu tantangan terbesar perjuangan daerah otonom baru adalah menjaga agar seluruh elemen tetap berjalan dalam satu irama. Darwis menyadari bahwa keberhasilan perjuangan tidak cukup hanya dengan dukungan masyarakat. Ia membutuhkan kesamaan langkah antara pemerintah daerah, DPRD, tokoh adat, akademisi, organisasi masyarakat, hingga diaspora Luwu yang tersebar di berbagai kota.
Di bawah kepemimpinannya, BPP DOB mulai membangun konsolidasi yang lebih sistematis. Empat pemerintah daerah di Tana Luwu diajak memperkuat komitmen bersama. Pimpinan DPRD dilibatkan dalam setiap langkah strategis.
Kalangan akademisi dipercaya menyusun kajian yang lebih komprehensif. KKLR di berbagai daerah kembali dirangkul sebagai kekuatan sosial yang dapat memperluas dukungan terhadap perjuangan tersebut.
Bagi Darwis, perjuangan sebesar ini tidak mungkin bergantung pada satu atau dua tokoh. Ia harus menjadi gerakan bersama.
Mengubah Cara Berjuang
Di sinilah salah satu pembeda kepemimpinan Darwis Ismail. Selama bertahun-tahun, argumentasi pembentukan Provinsi Luwu Raya lebih banyak berpusat pada syarat administratif, rentang kendali pemerintahan, dan pemerataan pelayanan publik.
Semua argumentasi itu tetap penting. Namun menurut Darwis, perjuangan membutuhkan cara pandang yang lebih relevan dengan arah pembangunan nasional. Karena itu, ia mendorong tim akademik Universitas Andi Djemma Palopo umtuk menyusun pendekatan baru. Luwu Raya diposisikan sebagai kawasan yang memiliki arti strategis bagi Indonesia.
Kawasan ini merupakan salah satu sentra produksi nikel nasional, memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan, sekaligus menjadi simpul penting pembangunan kawasan timur Indonesia. Narasi baru inilah yang kemudian dibawa ke hadapan Kepala Staf Kepresidenan.
Jalan Menuju Istana
Perjalanan menuju Kantor Staf Presiden bukanlah pekerjaan yang lahir dalam semalam. Di balik pertemuan itu terdapat proses panjang: menyusun kajian akademik, mengumpulkan data, menyelaraskan argumentasi, membangun komunikasi dengan berbagai pihak, hingga memastikan seluruh delegasi membawa pesan yang sama. Juga tentu bukan tanpa biaya.
Delegasi yang dipimpin Darwis tidak datang hanya membawa harapan. Mereka datang membawa data, peta, kajian ilmiah, dan argumentasi konstitusional. Juga harapan dan cita-cita besar masyarakat Luwu Raya.
Hasilnya menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah perjuangan Provinsi Luwu Raya. Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman menyatakan dukungan terhadap pembentukan Provinsi Luwu Raya setelah mendengarkan paparan yang disampaikan tim.
Bagi Darwis, dukungan tersebut bukanlah akhir perjuangan. Ia justru melihatnya sebagai pintu masuk menuju tahapan berikutnya.
Tak Mencari Sorotan
Di tengah dinamika organisasi dan politik, Darwis dikenal sebagai sosok yang lebih nyaman bekerja daripada banyak berbicara.
Rekan-rekannya menggambarkan dirinya sebagai figur yang sabar membangun komunikasi, terbuka menerima masukan, dan lebih memilih mempertemukan berbagai kepentingan daripada mempertajam perbedaan. Karakter itu pula yang membuatnya mampu merangkul berbagai unsur dalam perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Baginya, keberhasilan bukan diukur dari siapa yang paling sering tampil di depan publik. Keberhasilan adalah ketika seluruh elemen dapat bergerak menuju tujuan yang sama.
Perjalanan Masih Panjang
Dukungan Kepala Staf Kepresidenan menjadi salah satu pencapaian penting, tetapi bukan garis akhir. Masih ada proses konstitusional yang harus dilalui. Masih ada komunikasi yang harus dibangun bersama pemerintah, DPR/MPR RI, DPD RI, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Darwis memahami sepenuhnya hal itu. Karenanya, ia tidak pernah menyebut perjuangan ini sebagai perjuangan pribadinya. Bagi putera kelahiran Luwu, 2 Maret 1973 itu, Provinsi Luwu Raya adalah cita-cita kolektif masyarakat Tana Luwu yang telah dijaga lintas generasi. Dirinya hanyalah satu mata rantai dalam perjalanan panjang tersebut.
Sejarah kelak mungkin akan mencatat banyak nama yang ikut memperjuangkannya. Dan ketika hari itu tiba, yang paling penting bukan siapa yang paling banyak disebut, melainkan bahwa cita-cita masyarakat Luwu Raya akhirnya benar-benar terwujud. Aamin. (*)







Komentar Via Facebook :