ARIMBI Minta Polri Tuntaskan Pidana Limbah PT CPI di Riau

Siak - Target PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) untuk merehabilitasi atau memulihkan lokasi yang terkontaminasi minyak bumi hasil eksplorasi perusahaan tersebut diperkirakan tidak akan sesuai terget. Pasalnya dari hasil pantauan tim media dan Yayasan Anak Rimba Indonesia (ARIMBI) kesejumlah lokasi pengerjaan Pemulihan Tanah Terkontaminasi yang dilakukan Sub. Kontraktor PT Sami Surya Perkasa terkesan "setengah hati" dan asal-asalan.

Misalnya dari pantauan kesejumlah titik dari lahan sawit warga memang CPI dengan memakai Sub Konraktor memang telah mulai membersihkan ceceran limbah minyak yang ternyata juga mengkontaminasi kawasan Taman Hutan Raya (Tahuara) Sultan Syarif Kasim dan Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas di Provinsi Riau.

Berdasarkan tinjuan di lapangan sebaran limbah tersebut diperkirakan berasal dari lokasi titik pengeboran Minas yang terbawa arus hujan di sepanjang sungai Takuana.

"Rehabilitasi atau memulihkan lokasi tumpahan limbah PT CPI saya nilai setengah hati. Kalau kita amati sepanjang Sungai Takuana yang melintasi hutan Tahura lokasi PLG seluruhnya terkontaminasi limbah, namun yang dibersihkan atau dikorek hanya kerak tanah saja, itupun hanya pada lokasi yang gampang ditempuh. Artinya jalur evakuasi rehabilitasi atau memulihkan lokasi saja yang disterilkan sisanya alahuawalam," kata Kepala Suku ARIMBI, Mattheus. S, dilokasi evakuasi pembersihan limbah PLG, Minggu (28/3/21).

Lanjut Mattheus, selama ini luapan air sungai Takuana telah mentransfer limbah bersama material sungai lainnya, sehingga diperkirakan akumulasi cemaran yang berlangsung selama bertahun-tahun sudah mengendap hingga beberapa meter ke dalam tanah. Residu Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari limbah migas itu telah mengkontaminasi air dalam tanah.

"Dalam jangka panjang, ini sangat membahayakan bagi kelangsungan ekosistem disekitarnya. Faktanya, selama ini kita sudah kerap mendengar keluhan masyarakat yang lahan pertanian dan kebunnya rusak akibat terkena limbah.  Kejadian tersebut berikut dampak kerusakan lingkungan serta kerugian materil yang ditimbulkannya adalah tanggung jawab PT. CPI, ini harus dituntaskan," katanya.

Ulas Mattheus, tanah terkontaminasi minyak bumi merupakan tanah yang terkena tumpahan, ceceran atau kebocoran penimbunan limbah minyak bumi yang tidak sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam KepMen LH N0.128/2003.

Lanjut Mattheus, seharusnya pemulihan itu menjadi tanggung jawab CPI dan tidak ada hubungannya dengan cost recovery. “Itu yang tidak boleh dicost recoverykan, itu tanggung jawab PTCPI. Cost recover itu ganti biaya-biaya produksi, tapi kalau kerusakan lingkungan masa dicost recovery,” tegas Matthus.

Walau dikabarkan dari data PT Chevron Pacific Indonesia, untuk Riau telah mengeluarkan biaya pengelolaan tanah terkontaminasi limbah B3 sebesar 3.200.483 dolar AS, tidak memberikan dampak perbaikan yang significan sehingga patut dipertanyakan uang tersebut kemana ?

"Selain pengelolaan tanah terkontaminasi, PT Chevron Pacific Indonesia juga mengeluarkan biaya jutaan dolar AS untuk limbah sisa operasi B3. Lihat saja cara pegolahannya itu tidak sesuai dengan uang yang dikeluarkan. Pertanyaannya uang jutaan dolar AS itu dibelanjakan kemana? lalu apakah itu uang dari cost recovery yang ditagihkan pada SKK Migas atau memang dana CPI," katanya.

Informasinya, pada tahun 2015 sampai 2018 dari road map terdapat 125 lokasi yang terkontaminasi, 89 lokasi diduga telah diselesaikan. Sedangkan lokasi di luar roadmap sendiri membutuhkan Rencana Pemulihan Fungsi Lingkungan Hidup (RPLFH) sebanyak 304 lokasi.

"Sepanjang tahun 2018 lalu terdapat limbah sisa produksi migas yang tergolong bahan berbahaya dan beracun (B3) sebanyak 33.128,7 ton, kapan selesainya sementara kontraknya berapa bulan lagi selesai," katanya.

Terkait pengawasan, kata Mattheus, bagaimanakah Mekanisme KLHK dan SKK Migas memberikan persetujuan pada lokasi-lokasi yang akan dibersihkan, kriteria keberhasilan, metodologi, dan teknologi yang akan digunakan, serta pengembalian biaya untuk program pemulihan kalau dalam pemulihan limbah  saja CPI setengah hati.

"Kita minta Polri melalui Tim penyidik Tipiter mengejar Pidananya ," kata Mattheus.

Kemudian bagai mana sebenarnya bentuk pengawasan DLHK Provinsi Riau terkait pelaksanaan Pemulihan Fungsi Lingkungan Hidup terkait Tanah Terkontaminasi Minyak (TTM) PT.CPI selama ini, kata Mattheus "harus dijelaskan kadis DLHK Riau".

"Kembali menjadi pertanyaan saya, apa yang dilakukan DLHK Provinsi Riau terkait pelaksanaan Pemulihan Fungsi Lingkungan Hidup terkait Tanah Terkontaminasi Minyak CPI telah sesuai dengan kewenangan dan kompetensi DLHK Provinsi Riau?. Kalau Kadis bermain, ini ranahnya Kepolisian," pungkas Matthues.**


 

Dion Tri Septian
Komentar Via Facebook :